Karhutla Resahkan Warga Lamandau

Ria Mekar Anggreany • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:36 WIB
Sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 17 kejadian karhutla di Lamandau dengan luas area terdampak mencapai 26,16 hektare.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 17 kejadian karhutla di Lamandau dengan luas area terdampak mencapai 26,16 hektare.

 

NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com — Memasuki musim kemarau, masyarakat di Kabupaten Lamandau mulai merasakan dampak cuaca panas yang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi vegetasi yang mengering serta tiupan angin kencang membuat sejumlah wilayah di Lamandau semakin rawan terjadi kebakaran.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau, sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 17 kejadian karhutla dengan luas area terdampak mencapai 26,16 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Lamandau, Hendikel, mengatakan jumlah tersebut merupakan hasil penanganan langsung tim gabungan di lapangan serta verifikasi melalui pengecekan titik panas (hotspot) yang terdeteksi satelit.

“Selama periode Januari sampai Juli 2026 terdapat 17 kejadian karhutla yang kami tangani, baik melalui pemadaman langsung maupun hasil pengecekan terhadap titik hotspot,” ujar Hendikel, Senin (20/7).

Ia menjelaskan, mayoritas kebakaran yang terjadi di Lamandau merupakan kebakaran permukaan (surface fire) pada lahan mineral. Api membakar vegetasi seperti semak, ilalang, dan lahan bukaan masyarakat.

Menurutnya, jenis kebakaran tersebut tidak sampai masuk ke lapisan tanah dalam seperti yang terjadi pada lahan gambut. Namun, keberadaan ilalang dan rumput kering saat musim kemarau tetap menjadi bahan bakar yang dapat mempercepat penyebaran api apabila tidak segera ditangani.

Untuk mencegah meluasnya dampak karhutla yang dapat menurunkan kualitas udara dan merugikan masyarakat, BPBD Lamandau bersama pemangku kepentingan terkait meningkatkan patroli di sejumlah kawasan rawan kebakaran.

BPBD Lamandau juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat kondisi cuaca panas dan angin kencang.

“Stop membuka lahan dengan cara membakar. Pembersihan lahan secara konvensional ini sangat berbahaya di tengah cuaca terik dan berangin,” kata Hendikel.

Ia berharap masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar. Laporan cepat dari warga dinilai dapat membantu mempercepat proses penanganan dan pemadaman oleh petugas di lapangan. (mex/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
lamandau karhutla