SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Nikkon Bhastari, mengajak masyarakat mendaftarkan diri sebagai agen Perlindungan Sosial (Perlinsos) Kementerian Sosial (Kemensos).
Langkah ini diharapkan membantu pendataan keluarga kurang mampu di lingkungan sekitar, sehingga anak-anak yang putus sekolah dan memenuhi kriteria dapat memperoleh akses pendidikan melalui Sekolah Rakyat.
Nikkon mengatakan, keterlibatan masyarakat diperlukan untuk membantu mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi warga, terutama keluarga yang masuk desil 1 dan 2 atau kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah. Pendataan tersebut diharapkan menjadi salah satu upaya menjangkau anak-anak yang membutuhkan layanan pendidikan.
“ Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai agen Perlinsos Kemensos. Dengan begitu, kita bisa membantu mendata tetangga atau orang-orang terdekat di lingkungan masing-masing, apakah mereka termasuk keluarga mampu atau berada pada desil 1 dan 2,” ujarnya, Minggu (18/10).
Menurutnya, pendataan di lingkungan terdekat dapat menjadi tindak lanjut untuk menjaring calon peserta didik Sekolah Rakyat, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu yang mengalami putus sekolah atau kesulitan mengakses pendidikan.
Saat ini, jumlah peserta didik SRT 1 Kotim tercatat sekitar 326 orang dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Rinciannya, 88 siswa SD dan 103 siswa SMP, dan 135 siswa SMA. Untuk siswa SMA masih menyesuaikan karena terdapat calon peserta didik yang sedang dalam proses masuk.
SRT 1 Kotim memiliki kapasitas maksimal 1.080 peserta didik. Nikkon menegaskan, penambahan siswa akan terus dilakukan secara bertahap selama kapasitas tersebut belum terpenuhi, dengan memprioritaskan anak putus sekolah dan keluarga kurang mampu sesuai kriteria yang ditetapkan.
“Selama target maksimal 1.080 murid belum terpenuhi, kami akan terus menambah peserta didik, terutama anak-anak yang putus sekolah dan berasal dari keluarga tidak mampu sesuai desilnya,” jelasnya.
Ia menyebutkan, jangkauan penerimaan peserta didik mencakup seluruh 17 kecamatan di Kabupaten Kotim. Namun, prioritas tetap diberikan kepada calon siswa dari keluarga yang masuk desil 1 dan 2. Sementara itu, data sejumlah calon peserta didik yang belum masuk dalam kategori desil tersebut masih menunggu pembaruan dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Nikkon menambahkan, SRT 1 Kotim menerapkan pendekatan pendidikan inklusif dengan memperhatikan kemampuan awal setiap siswa. Sekolah tidak hanya menerima anak yang mengalami putus sekolah, tetapi juga berupaya membantu peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam kemampuan dasar belajar.
Ia mencontohkan seorang siswa tingkat SMP yang belum mampu membaca ketika pertama kali masuk sekolah. Setelah menjalani pembelajaran selama sekitar dua bulan, siswa tersebut mulai dapat membaca meskipun masih terbata-bata.
“Di sini pendekatannya inklusif. Ada siswa yang masuk tingkat SMP tetapi belum bisa membaca. Setelah dua bulan belajar, sekarang sudah mulai bisa membaca meskipun masih terbata-bata,” ungkapnya.
Melalui pendataan yang melibatkan masyarakat dan penambahan peserta didik secara bertahap, SRT 1 Kotim berharap semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu yang dapat dijangkau dan memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko