Air PDAM Mulai Asin, Dinkes Kotim Imbau Warga Tak Asal Konsumsi

M. Akbar • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 14:48 WIB
Kabid P2P Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, meminta masyarakat menghindari air yang kualitasnya diragukan untuk konsumsi.  (Akbar/Radar Sampit)
Kabid P2P Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, meminta masyarakat menghindari air yang kualitasnya diragukan untuk konsumsi. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengimbau masyarakat tidak langsung mengonsumsi air PDAM yang mulai terasa asin di sejumlah wilayah.

Perubahan rasa tersebut menunjukkan adanya perubahan kualitas air sehingga perlu dipastikan terlebih dahulu apakah air masih memenuhi standar untuk dikonsumsi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan air yang terasa asin berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis air, terutama diare, apabila kualitas mikrobiologisnya juga mengalami penurunan.

“Air PDAM yang mulai asin di beberapa wilayah berpotensi meningkatkan risiko diare, terutama jika kualitas mikrobiologisnya juga menurun. Namun, besarnya peningkatan kasus tidak dapat ditentukan hanya dari rasa asin dan perlu didukung hasil pemeriksaan kualitas air serta data surveilans diare,” kata Nugroho, Kamis (8/10).

Menurutnya, berdasarkan data mingguan yang dihimpun dari puskesmas, memang terdapat peningkatan kasus diare di wilayah perkotaan.

Namun, peningkatan kasus tersebut tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan meningkatnya salinitas air karena sejumlah peningkatan kasus dalam tiga bulan terakhir juga terjadi di wilayah bagian tengah dan utara Kotim.

Nugroho menegaskan, air yang terasa asin sebaiknya tidak langsung digunakan untuk minum maupun memasak sebelum kualitasnya dipastikan memenuhi standar.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa merebus air tidak menghilangkan kandungan garam yang menyebabkan rasa asin.

“Air yang terasa asin menunjukkan adanya perubahan kualitas air dan merebus air tidak menghilangkan kandungan garam tersebut. Sebaiknya tidak langsung dikonsumsi sebelum dipastikan memenuhi standar kualitas air minum,” ujarnya.

Selain diare, penggunaan air dengan kualitas yang menurun juga berpotensi menyebabkan penyakit berbasis air lainnya, seperti gangguan kulit. Sementara jika air dengan kadar garam sangat tinggi dikonsumsi terus-menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk hipertensi dan gangguan pembuluh darah.

Dinkes Kotim juga mengingatkan masyarakat menjaga kebersihan selama menghadapi keterbatasan air bersih. Warga diminta mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan makanan serta peralatan makan, dan menyimpan air bersih dalam wadah tertutup.

“Jika memungkinkan, gunakan sumber air alternatif yang telah dipastikan aman, seperti air kemasan atau air galon yang telah mendapatkan pengawasan dan pemeriksaan kualitas air secara rutin,” jelas Nugroho.

Ia menambahkan, masyarakat sebaiknya menghindari penggunaan sumber air yang kualitasnya diragukan untuk kebutuhan konsumsi.

Langkah tersebut penting dilakukan untuk mencegah penyakit berbasis air selama kondisi kualitas dan ketersediaan air bersih belum sepenuhnya normal.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
intrusi air laut PDAM Asin dinkes kotim