Hujan Deras Guyur Sejumlah Wilayah Kotim, Warga Berharap Karhutla Segera Padam

Rm-120 • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 16:00 WIB
Setelah hampir tiga bulan diterpa kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hujan deras akhirnya mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu (26/9/2026) sore.
Setelah hampir tiga bulan diterpa kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hujan deras akhirnya mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu (26/9/2026) sore.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Setelah hampir tiga bulan diterpa kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hujan deras akhirnya mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu (26/9/2026) sore.

Hujan turun di antaranya di kawasan Bapangang Raya, Desa Babaung, serta Desa Rawa Sari atau Babaluh. Guyuran air hujan langsung disambut syukur warga yang selama berbulan-bulan menghadapi udara panas, kekeringan, dan kabut asap.

Warga Desa Rawa Sari Babaluh, Sidik, mengaku lega melihat hujan kembali turun di wilayahnya. Ia berharap hujan tersebut menjadi pertanda berakhirnya kemarau panjang yang melanda Kotim.

“Alhamdulillah turun juga hujan deras di Desa Rawa Sari Babaluh. Semoga ini awal pertanda baik ke depannya, semoga musim kemarau berakhir,” ungkap Sidik.

Selain membawa kesejukan, hujan juga diharapkan membantu membasahi lahan yang selama ini kering serta memadamkan bara api di sejumlah lokasi yang masih rawan terbakar.

Aktivitas masyarakat dan relawan penanganan karhutla di wilayah yang diguyur hujan juga dilaporkan tetap berjalan kondusif.

Namun, hujan belum merata di seluruh wilayah Kotim. Hingga Sabtu petang, sejumlah kawasan perkotaan Sampit, terutama Ketapang dan Baamang, masih belum diguyur hujan meski suara petir terdengar bersahut-sahutan.

Sejak sekitar pukul 14.00 WIB, langit Kota Sampit terlihat mendung. Kabut asap pekat juga masih menyelimuti sejumlah kawasan hingga membuat suasana terlihat gelap.

Warga Baamang Hulu, Amy, mengatakan kondisi tersebut membuat warga semakin berharap hujan segera turun.

“Di daerah Baamang belum ada hujan, walau terdengar suara petir. Baru jam 2 WIB sudah terasa mau magrib, gelap, ditambah lagi kabut asap pekat,” tutur Amy.

Menurutnya, hujan sangat dinantikan masyarakat karena diharapkan dapat membantu membersihkan udara dari asap dan debu sekaligus mengurangi hawa panas yang masih terasa.

“Berharap di Baamang sini juga hujan. Ya paling tidak mengurangi udara biar tidak berdebu dan hawa panas,” imbuhnya.

Turunnya hujan di sejumlah wilayah Kotim menjadi angin segar di tengah kondisi karhutla yang masih menjadi perhatian. Warga berharap hujan segera meluas ke kawasan lain sehingga kualitas udara membaik dan ancaman kebakaran dapat berkurang. (ady)

Editor : Slamet Harmoko
karhutla hujan