Minimnya Sumber Air Jjadi Kendala Pemadaman Karhutla di Kotim

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 21:51 WIB
Wabup Kotim Irawati turut membantu petugas melakukan pemadaman pada lahan terbakar di Jalan Tjilik riwut km 7-8 arah Kotabesi, Sabtu (19/9).(yuni/radarsampit)
Wabup Kotim Irawati turut membantu petugas melakukan pemadaman pada lahan terbakar di Jalan Tjilik riwut km 7-8 arah Kotabesi, Sabtu (19/9).(yuni/radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menghadapi kendala suplai air. Kondisi kekeringan dan surutnya Sungai Mentaya pada waktu tertentu membuat armada pemadam kesulitanbmendapatkan pasokan air secara cepat.

Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, suplai air dari organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mendukung penanganan karhutla sejauh ini telah dimaksimalkan. Namun, ketersediaan sumber air menjadi persoalan tersendiri karena kondisi kemarau ynqg terjadi saat ini.

“Untuk penanganan kebakaran sendiri, suplai air dari OPD sudah maksimal. Tetapi karena memang kondisi air, selain kita ini kebakaran, kita juga kekeringan,” ujarnya.

Menurutnya, kendala paling terasa terjadi pada waktu tertentu ketika Sungai Mentaya mulai surut. Pada pagi hark, kondisi sungai masih memungkinkan untuk menjadi sumber pengisian air bagi armada pemadam karena pengaruh pasang.

Baca Juga: Pemadaman Karhutla Kotim Terkendala, Alkon Langka dan Sumber Air Kian Menipis

“Kalau pagi kan kita ada pasang surut di Sungai Mentaya. Kalau pada saat pagi masih enak mengambil airnya, tapi pada saat sudah jam 3 ke atas itu air akan surut,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak selalu bisa berlangsung tanpa jeda. Ketika air di dalam tangki pemadam habis, petugas harus menunggu armada kembali mendaoatkan suplai air. Sementara jarak antara sumber air dan lokasi kebakaran cukup jauh, bahkan bisa mencapai 3 hingga 4 kilometer.

“Pada saat pemadaman, pada saat air yang di dalam tangki itu habis, kita akan menunggu suplai dulu. Dan suplai itu memakan waktu karena jarak Sungai Mentaya dengan titik lokasi lumayan,” jelas Irawati.

Menurutnya, keterlambatan suplai air tersebut dapatbmemberi kesempatan api kembali membesar dsn menjalar. Kondisi itu bahkan berpotensi mengancam permukiman warga apabila titik kebakaran berada tidak jauh dari kawasan masyarakat. (yn/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
suplai air sungai mentaya kekeringan wakil bupati kotim irawati karhutla