SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Tjilik Riwut Km 7-8 arah Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali menghadapi kendala. Selain kondisi lahan yang didominasi gambut, petugas juga kesulitan mendapatkan suplai air untuk pemadaman.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, kondisi kekeringan membuat sumber air yang biasa digunakan petugas mulai berkurang. Bahkan, sejumlah sumber air yang telah disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla tidak lagi mencukupi ketika memasuki sore hari.
“Kendala di lapangan itu rata-rata saat ini karena kitq juga kekeringan, itu adalah suplai air,” kata Irawati saat meninjau lokasi karhutla di Jalan Tjilik Riwut Km 7-8, Sabtu (19/9).
Menurutnya, sumur bor yang dibangun TNI maupun embung yang disiapkan Polres Kotim biasanya masih dapat digunakan pada siang hari. Namun, setelah memasuki sekitar pukul 15.00 WIB, debit air mulai berkurang sehingga petugasbharus mencari sumber air alternatif.
“Kalau sudah di atas jam tiga sore, airnya kering. Sehingga kita mengambil air di Sungai Mentaya,” ujarnya.
Pengambilan air dari sungai juga membutuhkan waktu. Petugas harus menunggu proses pengisian dan distribusi air ke lokasi kebakarn, sehingga waktu yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar 30 hingga 40 menit.
Kondisi lahan gambutnmenjadi persoalan lain dalam penanganan karhutla. Api yang berada di dalam gambut membuat petugas tidak mudah menjangkau titik api. Pemadaman tidak cukup hanya dilakukan pada bagian permukaan, tetapi petugas juga harus memastikan api di dalam lahan benar-benar padam agar tidak kembali menyala.
“Karena kita gambut, itu sangat sulit sekali bagi petugas kita untuk masuk ke dalam lapangan apabila apinya ada di dalam lahan gambut,” jelas Irawati.
Irawati mengatakan, kebakaran di sekitar Jalan Tjilik Riwut menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian karena lokasinya berada tidak jauh dari kawasan perkotaan.
Titik tersebut merupakan bagian dari sejumlah kejadian karhutla yang muncul di sekitar Kecamatan Ketapang dan Baamang.
Saat meninjau lokasi sekitar pukul 14.30 WIB, Irawati melihat kondisi api cukup besar sementara petugas pemadam belum berada di titik tersebut.
Setelah dilakukan koordinasi, petugas karhutla kemudian berdatangan untuk melakukan penanganan. Armada pemadam juga dikerahkan untuk mendukung pemadaman.
Tak hanya memantau dari lokasi, Irawati juga turun langsung membantu petugas melakukan pemadaman. Ia ikut memegang selang pemadam dsn mengarahkan semprotan air ke bagian lahan yang masih terbakar.
Di tengah kepulan asap dan kondisi lahan yang cukup sulit dijangkau, Irawati terlihat bersama petugas berupaya membasahi area yang terbakar. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu mempercepat proses pemadaman sekaligus memastikan api tidak kembali menjalar ke bagian lahan lainnya.
Sementara itu, bsnyaknya armada dan aktivitas petugas di sisi kanan-kiri jalan membuat pengguna Jalan Tjilik Riwut Km 7-8 harus lebih berhati-hati. Pengendara diminta mengurangi kecepatan ketika melintas karena petugas masih sibuk melakukan pemadaman dan mobil pemadam keluar-masuk menyuplai air.
Kondisi asap dari kebakaran juga dapat mengurangi jarak pandang pengendara. Karena itu, pengguna jalan diimbau tidak memacu kendaraan ketika melintasi kawasan tersebut dan memberi ruang bagj kendaraan maupun petugas yang sedang melakukan penanganan karhutla. (yn)
Editor : Slamet Harmoko