SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyiapkan rencana perluasan jaringan Perumdam Tirta Mentaya untuk mengatasi persoalan air bersih di wilayah selatan. Jaringan pelayanan air bersih direncanakan diperluas hingga Ujung Pandaran.
Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan Kotim Rifarna Montazriani mengatakan, rencana tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Bupati Kotim untuk meningkatkan pelayanan air bersih masyarakat di wilayah selatan.
Saat ini, jaringan pipa Perumdam Tirta Mentaya sebenarnya sudah mencapai Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit. Namun, layanan air bersih belum menjangkau wilayah dari Parebok hingga Ujung Pandaran.
“Pipa ini sebenarnya sudah sampai Desa Parebok dan posisinya masih di pinggir jalan. Dari Parebok sampai Ujung Pandaran memang belum terlayani PDAM,” kata Rifarna, Jumat (18/9).
Sebelum pembangunan dilaksanakan, Pemkab Kotim akan melakukan feasibility study (FS) atau studi kelayakan untuk memastikan rencana perluasan jaringan tersebut memenuhi aspek teknis, ekonomi, dan bisnis.
“Jadi, sesuai instruksi Pak Bupati, nanti kami melakukan FS dulu untuk melihat apakah memang layak dari sisi teknis, ekonomi maupun bisnis,” ujarnya.
Hasil studi kelayakan tersebut selanjutnya menjadi dasar penyusunan detail engineering design (DED) atau perencanaan teknis pembangunan. Pemkab Kotim berencana mengalokasikan anggaran untuk tahapan FS dan DED pada 2027.
“Dari FS kita akan lanjutkan ke perencanaan detail. Mungkin tahun depan sesuai instruksi Pak Bupati kita alokasikan untuk FS dan DED-nya,” jelas Rifarna.
Menurutnya, keterbatasan anggaran selama ini menjadi salah satu kendala pembangunan jaringan PDAM hingga wilayah selatan. Kondisi fiskal daerah juga mengalami tekanan karena transfer dari pemerintah pusat berkurang dibandingkan tahun sebelumnya.
“Permasalahannya klasik, yaitu keterbatasan anggaran. Apalagi situasi fiskal kita sekarang, transfer dari pusat berkurang jauh dari tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Meski demikian, pemerintah daerah berupaya agar kebutuhan anggaran untuk tahapan awal perluasan jaringan dapat direalisasikan pada 2027.
Terkait besaran biaya, Rifarna mengatakan belum dapat memastikan nilai investasi karena FS dan DED belum disusun. Sebagai gambaran, pembangunan jaringan distribusi sepanjang sekitar dua kilometer di Desa Jaya Karet saat ini membutuhkan anggaran sekitar Rp1,2 miliar.
“Itu hanya jaringan distribusi bagi. Kalau sampai Ujung Pandaran merupakan jaringan distribusi utama (JDU), pipanya lebih besar sehingga biayanya pasti lebih besar,” terangnya.
Rifarna menambahkan, kebutuhan anggaran secara rinci baru dapat diketahui setelah studi kelayakan dan DED selesai. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan teknis pembangunan serta kebutuhan pembiayaan perluasan jaringan air bersih hingga Ujung Pandaran. (ktr-2/sla)
Editor : Slamet Harmoko