SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diperkuat dengan dukungan dua unit helikopter water bombing. Keduanya dijadwalkan tiba di Sampit, Rabu (16/9), untuk membantu pemadaman titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, dirinya telah menerima informasi mengenai dukungan dua helikopter tersebut. Keberadaan armada udara diharapkan mempercepat penanganan karhutla, terutama di lokasi dengan akses darat terbatas.
“Saya terima informasi hari ini mudah-mudahan jadi. Ada dropping dua buah helikopter untuk water bombing. Kita berharap khususnya pada titik api yang jangkauannya jauh dan tidak mungkin kita melaksanakan pemadaman lewat darat,” kata Halikinnor di Sampit.
Menurutnya, pengerahan helikopter menjadi penting untuk menjangkau lokasi yang tidak memungkinkan didatangi personel maupun kendaraan pemadam melalui jalur darat. Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim diharapkan dapat memanfaatkan dukungan udara tersebut secara optimal.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim Rihel mengatakan, dua helikopter tersebut direncanakan bergerak dari Palangka Raya menuju Sampit dan selanjutnya disiagakan di Bandara Haji Asan Sampit.
“Helikopter untuk water bombing rencananya tiba di Sampit hari ini dan itu standby di Sampit. Rencananya ada dua unit, yaitu AS365 dan Kamov,” sebutnya.
Rihel menjelaskan, kedatangan kedua helikopter masih bergantung pada kondisi cuaca. Kabut asap tebal menjadi salah satu kendala karena dapat mengurangi jarak pandang dan menghambat keselamatan penerbangan.
“Kalau kondisi cuaca bagus, mereka bisa geser dari Palangka Raya ke Sampit. Potensi kendalanya saat ini hanya cuaca, dalam hal ini kabut asap tebal. Kalau tidak ada kendala tersebut maka seharusnya dua helikopter itu akan tiba di Sampit hari ini,” ujarnya.
Setelah tiba di Sampit, Satgas Udara akan menginventarisasi lokasi dan titik koordinat yang membutuhkan dukungan pemadaman dari udara. Data tersebut akan dipadukan dengan informasi dari Satgas Darat yang melakukan pengecekan langsung di lapangan.
Informasi titik api juga dapat diperoleh dari personel kepolisian di lapangan maupun pemantauan melalui peta satelit Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi). Titik yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan sasaran water bombing.
Prioritas awal diarahkan pada titik api di sekitar Kota Sampit. Namun, apabila kondisi memungkinkan dan kedua helikopter dapat beroperasi, salah satunya dapat diarahkan ke wilayah pedalaman yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Rihel menyebutkan, berdasarkan pemantauan peta satelit SiPongi, titik yang membutuhkan dukungan water bombing terutama berada di lokasi yang tidak dapat ditangani secara optimal oleh pasukan darat karena jarak dan keterbatasan akses.
Wilayah selatan Kotim menjadi salah satu perhatian. Sejumlah kecamatan di kawasan tersebut memiliki titik karhutla dengan akses darat yang tidak mudah, di antaranya Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara.
Meski demikian, pengerahan helikopter tetap disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan. Apabila terdapat titik api di wilayah perkotaan yang sulit ditangani melalui jalur darat, armada udara juga dapat dialihkan untuk membantu pemadaman.
Mengenai durasi penempatan, Rihel mengatakan kedua helikopter dapat disiagakan di Sampit selama kondisi karhutla masih membutuhkan dukungan udara. Masa standby diperkirakan dapat berlangsung satu hingga dua pekan atau menyesuaikan perpanjangan dukungan dari BNPB.
“Untuk saat ini tergantung kondisi lapangan. Tidak menutup kemungkinan bisa saja seminggu, dua minggu sampai dengan kita dan juga perpanjangan dari BNPB,” sebutnya.
Rihel memastikan operasional kedua helikopter tersebut merupakan dukungan dari BNPB. Pemerintah Kabupaten Kotim tidak perlu mengeluarkan biaya operasional karena kontrak penyewaan dilakukan BNPB dengan operator.
“Kontraknya dari BNPB dengan operator. Biayanya semua ditanggung BNPB. Jadi Pemda tidak mengeluarkan biaya untuk operasionalnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, faktor keselamatan penerbangan tetap menjadi penentu utama pelaksanaan water bombing. Kabut asap yang terlalu tebal dapat membuat jarak pandang tidak memenuhi persyaratan penerbangan.
Karena itu, meskipun dua helikopter telah disiapkan untuk memperkuat penanganan karhutla di Kotim, pelaksanaan operasi tetap menunggu kondisi visibilitas yang memungkinkan. (ant)
Editor : Slamet Harmoko
Sumber : ANTARA