September Ini Karhutla Masih Mengancam Kotim

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 07:00 WIB
Pemadaman api karhutla yang mengenai lahan warga dan bangunannya, baru-baru tadi. (dok.radarsampit)
Pemadaman api karhutla yang mengenai lahan warga dan bangunannya, baru-baru tadi. (dok.radarsampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim memprakirakan September 2026 masih menjadi puncak musim kemarau, sedangkan awal musim hujan baru datang bertahap mulai dasarian II Oktober.

Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, kondisi cuaca di Kotim hingga akhir September masih diprakirakan kering. Artinya, potensi karhutla masih harus diwaspadai di tengah kondisi lahan dan vegetasi yang relatif mudah terbakar.

“Untuk kondisi cuaca kita, di September ini adalah puncak musim kemarau di wilayah Kotawaringin Timur. Prakiraan sampai akhir bulan ini kondisinya masih kering,” kata Mulyono di Sampit, Selasa (15/9).

Menurutnya, peralihan musim diperkirakan mulai terjadi pada Oktober. Namun, kedatangan musim hujan tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Kotim. Hujan diprakirakan bergerak dari wilayah utara menuju selatan.

Wilayah Kotim bagian utara diprakirakan lebih dahulu memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober atau sekitar pertengahan bulan. Selanjutnya, wilayah bagian tengah menyusul pada dasarian III Oktober.

“Awal musim hujan di wilayah Kotawaringin Timur bagian utara itu ada di Oktober II. Kemudian bagian tengah Oktober III, sedangkan Sampit dan Baamang serta sekitarnya November I. Terakhir November III di daerah Teluk Sampit dan sekitarnya,” sebutnya.

Sejumlah wilayah yang berpotensi lebih dahulu memasuki musim hujan antara lain sebagian Telaga Antang, Antang Kalang, Tualan Hulu dan Bukit Santuai pada dasarian II Oktober.

Kemudian pada dasarian III Oktober, musim hujan diprakirakan meluas ke Mentaya Hulu, Parenggean, sebagian Mentaya Hilir Utara, Kota Besi, Antang Kalang, Telawang, Cempaga Hulu, Tualan Hulu dan Bukit Santuai.

Sementara Sampit, Baamang, Mentawa Baru Ketapang, Seranau, Mentaya Hilir Selatan dan sejumlah wilayah lainnya diprakirakan baru memasuki musim hujan pada dasarian I November. Teluk Sampit menjadi salah satu wilayah yang diprakirakan paling akhir, yakni dasarian III November.

Kondisi kekeringan juga tercermin dari analisis BMKG terhadap curah hujan Agustus 2026. Seluruh wilayah Kotim berada dalam kategori curah hujan rendah, yakni 0–20 milimeter, dengan sifat hujan berada pada kategori bawah normal.

“Pemantauan hari tanpa hujan hingga 10 September juga menunjukkan sebagian wilayah Kalimantan Tengah mengalami periode tanpa hujan sangat panjang hingga ekstrem. Kondisi tersebut memperkuat potensi lahan dan vegetasi menjadi semakin mudah terbakar,” jelasnya.

Mulyono juga menegaskan, hujan gerimis yang sempat turun di sejumlah wilayah Kotim dalam beberapa hari terakhir belum bisa menjadi tanda dimulainya musim hujan.

Menurutnya, hujan tersebut masih terbatas. Sebagian di antaranya merupakan dampak kegiatan modifikasi cuaca yang dilakukan BMKG bersama BNPB dan instansi terkait.

Penyemaian dalam rangka modifikasi cuaca dilakukan di wilayah Katingan dan Seruyan. Dampaknya turut dirasakan sejumlah wilayah Kotim sehingga terjadi hujan, meski intensitasnya masih berupa gerimis dan berlangsung singkat.

“Dalam beberapa hari ini memang ada yang hujan rintik-rintik di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Baamang, daerah Tidar dan bandara. Itu dari hasil modifikasi cuaca yang dilakukan BMKG dan stakeholder lainnya,” ujarnya.

Hujan dengan intensitas tersebut dinilai belum cukup untuk menurunkan ancaman karhutla secara signifikan. Sebab, masih terdapat titik-titik yang belum mendapatkan pembasahan sehingga sumber asap masih berpotensi muncul.

“Kalau dinilai dari cukup atau tidaknya hujan tersebut untuk membantu pemadaman kebakaran lahan, sepertinya tidak. Karena asap ini masih tetap keluar. Pembasahan secara sempurna baru bisa menghilangkan asap,” terangnya.

Ia menjelaskan, hujan yang lebih efektif untuk menekan karhutla adalah hujan lebat hingga sangat lebat dengan durasi tertentu dan mencakup wilayah cukup luas.

“Karakteristik hujan yang bisa menurunkan karhutla itu hujannya lebat dengan durasi singkat, mungkin satu sampai tiga jam, tetapi sangat lebat dan radiusnya lumayan luas,” imbuhnya.

BMKG mencatat kondisi kekeringan di Kotim masih menjadi perhatian. Indikator kemudahan terbakar menunjukkan potensi tinggi, seiring kelembaban bahan bakar permukaan hingga lapisan tanah yang masih rendah.

Mulyono menegaskan, ancaman karhutla di Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau yang belum berakhir dan curah hujan yang masih rendah selama September.

“Untuk kondisi sekarang ancaman karhutla di Kalteng masih tinggi. Potensinya sangat tinggi dan sangat besar terjadi kebakaran hutan. Untuk itu, kami imbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari hal-hal yang dapat memicu kebakaran lahan,” demikian Mulyono. (ant)

 

Editor : Slamet Harmoko
karhutla kotim september sampit kotim karhutla