Penanganan Karhuta di Kotim Harus Gotong Royong. Perhatikan Keselamatan Para Relawan Pemadaman Api

Rado. • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 22:04 WIB
Pemadaman api karhutla yang mengenai lahan warga dan bangunannya, baru-baru tadi. (dok.radarsampit)
Pemadaman api karhutla yang mengenai lahan warga dan bangunannya, baru-baru tadi. (dok.radarsampit)

SAMPIT-radarsampit.jawapos.com-Ketua DPRD Kotim Rimbun menilai, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perusahaan perkebunan dan pertambangan, pengembang perumahan, koperasi, kelompok tani hingga masyarakat diminta terlibat.

”Kita minta untuk lebih maksimal lagi dalam rangka keikutsertaan penanganan karhutla,” ujarnya.

Rimbun pun mendorong perusahaan tambang ikut membantu pemadaman di sekitar wilayah operasionalnya. Menurut dia, kontribusi dunia usaha tidak cukup hanya menjaga wilayah izin usaha pertambangan (IUP).

Selain itu, koperasi dan kelompok tani juga diminta bertanggung jawab terhadap lahan yang mereka kelola. Sarana seperti pompa air, selang dan nozzle perlu disiapkan untuk menghadapi kebakaran. Pengembang perumahan pun diminta menyediakan sumur bor, mesin, genset, selang dan nozzle, terutama karena kebakaran mulai mendekati kawasan permukiman.

”Sarana ini, sumur bornya wajib pengembang menyiapkan. Dan juga sarana alatnya, mesin genset atau nozzle atau selang, kewajiban pengembang atau gotong royong semua yang ada warga di perumahan,” paparnya.

Di tengah kondisi tersebut, petani dan relawan menjadi salah satu kelompok yang kerap berada di garis depan. Mereka turun memadamkan api yang mendekati kebun dan permukiman.Namun, perlengkapan keselamatan yang digunakan belum memadai.

Arko, salah satu petani di kawasan Jalan Sudirman, Sampit, mengatakan warga biasanya hanya mengandalkan sepatu boot dan tangki air yang digendong. Masker pun terkadang tidak digunakan.

Baca Juga: Padamkan Karhutla di Kalteng, Hadirkan Helikopter Kamov dari Rusia

”Bahkan kadang tidak menggunakan masker, hanya bermodalkan sepatu boot dan tangki air di pundak,” ungkapnya.

Risiko meningkat ketika api masuk ke areal perkebunan. Pihaknya kerap tetap bertahan karena kebun merupakan sumber penghasilan.”Apalagi kalau api sudah masuk ke areal kebun. Keselamatan kadang tidak terpikirkan lagi. Kebun itu tempat mereka menggantungkan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Ketua Komisi III DPRD Kotim Dadang Siswanto turut meminta petugas kesehatan di desa aktif memantau kondisi warga dan relawan yang terlibat dalam pemadaman.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan tidak perlu menunggu warga mengalami kondisi serius. Relawan yang mengeluhkan sesak napas, pusing, lemas atau kelelahan harus segera mendapat perhatian dan diberi waktu beristirahat.

”Kalau sudah menyangkut kebun, masyarakat tentu berusaha mempertahankan lahannya. Itu sumber penghasilan mereka,” pungkas Dadang.

Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Keselamatan warga dan relawan yang berada di lokasi juga harus menjadi perhatian.(ang/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
penanganan karhutla perusahaan Ketua DPRD Kotim Rimbun kelompok tani Dadang H Syamsu