SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Di tengah ancaman karhutla di permukiman, keterbatasan air dan jarak menjadi kendala utama pemadaman. Persoalan itu dibahas dalam rapat evaluasi penanganan karhutla yang dipimpin Bupati Kotim Halikinnor, Rabu (16/9).
Data BPBD Kotim per 15 September 2026, menunjukkan karhutla masih dalam kondisi serius. Sebanyak 776 kejadian tercatat dengan luas lahan terbakar mencapai 1.706 hektare. Sebagian besar berada di lahan gambut.
Dalam periode yang sama, terdeteksi 21.132 titik panas (hotspot) di Kotim.
”Tadi kita buka peta bahwa ada satu-dua titik yang memang berada jauh dari jangkauan kita. Ada yang puluhan kilometer dari sumber air, misalnya sungai atau sumur bor,” kata Halikinnor.
Baca Juga: Air Mulai Menipis Saat Kemarau, Perusahaan Diminta Bantu Warga Seruyan dan Pemadam Karhutla
Pihaknya pun meminta perusahaan mengerahkan armada untuk membantu pemadaman dan pendinginan. Terutama di titik yang berdekatan dengan wilayah operasional masing-masing.
”Kita minta bantuan perusahaan untuk bisa memadamkan, khususnya perusahaan yang terdekat dari titik api tersebut,” ujarnya.
Selain wilayah yang jauh dari sumber air, titik api juga masih terpantau di Baamang, Ketapang, dan Seranau.
Setiap perusahaan yang hadir diminta mengirimkan satu armada lengkap untuk mendukung operasi. Menurut Halikinnor seluruh PBS telah menyatakan kesediaannya membantu.
”Ini musim kering, jadi semuanya mengering. Sehingga kita hanya andalkan air Sungai Mentaya untuk pemadaman tersebut. Kita perlu armada tambahan,” tegasnya.(yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama