SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kemunculan bekantan di tepi jalan kawasan Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendapat perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan pihaknya belum menerima laporan langsung mengenai kemunculan bekantan tersebut.
Meski demikian, ia memastikan kawasan Ujung Pandaran memang menjadi habitat bekantan dan lutung abu-abu.
"Memang, di daerah Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit ada habitat bekantan dan lutung abu-abu. Kalau melihat foto dan video, sepertinya ini di wilayah tepi jalan raya," kata Muriansyah, Senin (14/9/2026).
Muriansyah meminta masyarakat tidak panik ketika menemukan bekantan di sekitar jalan atau kawasan permukiman.
Warga juga diminta tidak mendekati, menangkap, apalagi melukai satwa tersebut.
"Sebenarnya, bekantan tidak berbahaya dan tidak menyerang," ujarnya.
Menurutnya, bekantan tidak akan menyerang manusia selama tidak diganggu atau ditangkap. Namun, upaya menangkap satwa tersebut secara manual justru dapat membahayakan warga.
"Dan sangat berbahaya menangkap bekantan dengan cara manual. Taring yang dimilikinya bisa membuat luka serius pada manusia," jelasnya.
Muriansyah mengatakan, sebelumnya pernah ada laporan kemunculan bekantan di sisi jalan sebelum memasuki kawasan Ujung Pandaran.
Di sekitar lokasi tersebut terdapat vegetasi mangrove dan nipah yang menjadi habitat satwa tersebut.
Karena itu, jika kembali menemukan bekantan, masyarakat sebaiknya menjaga jarak dan membiarkan satwa tersebut beraktivitas tanpa gangguan.
Dari foto dan video yang beredar, Muriansyah memperkirakan bekantan yang terlihat di tepi jalan tersebut merupakan individu jantan.
Ia menjelaskan, bekantan merupakan satwa yang umumnya hidup dalam kelompok. Karena itu, kemunculan seekor bekantan seorang diri bisa berkaitan dengan kondisi tertentu dalam kelompoknya.
Salah satu kemungkinan, kata dia, bekantan tersebut merupakan pejantan yang kalah bersaing dengan pejantan lain sehingga terpisah dari kelompoknya.
"Bisa saja bekantan tersebut merupakan pejantan yang kalah bersaing dari pejantan lainnya dan akhirnya terusir dari kelompoknya," pungkasnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko