Kemah Ribuan Pelajar di Kotim Terancam Ditunda,  Kwaran Ingatkan Bahaya Kabut Asap 

Rado. • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 21:36 WIB
ilustrasi-perkemahan pramuka
ilustrasi-perkemahan pramuka
 SAMPIT – Rencana Kemah Ceria Penggalang (KCP) 2026 yang melibatkan lebih dari seribu pelajar di Kotawaringin Timur (Kotim) belum mendapat kepastian pelaksanaan. Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim menyebut kegiatan tersebut masih sebatas rencana, sementara Kwartir Ranting (Kwaran) Gerakan Pramuka Mentawa Baru Ketapang meminta kegiatan luar ruangan ditunda, karena kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Disdik Kotim Yolanda Fenisia mengatakan, pihaknya telah melakukan klarifikasi kepada pihak yang merencanakan kegiatan tersebut. Dari hasil klarifikasi, KCP 2026 memang masuk dalam rencana, tetapi belum dipastikan terlaksana.

“Sudah kami klarifikasi sama pihak rencana penyelenggaranya. Memang itu ada rencana, tapi belum tentu jadi,” ujarnya, usai pelantikan pejabat Pemkab Kotim di Gedung Serbaguna Sampit, Jumat (11/9).

Menurutnya, jika kegiatan tersebut tetap dilaksanakan, waktunya kemungkinan digeser dari rencana awal Oktober menjadi November. Namun, keputusan tersebut juga belum final.

“Memang agendanya kemungkinan kalau memang mau dilaksanakan itu di November. Tapi belum tentu jadi, belum pasti,” kata Yolanda.

Baca Juga: Asap Dikhawatirkan Ganggu Peserta Perkemahan Pramuka

Pernyataan Disdik tersebut berbeda dengan proposal KCP 2026 yang beredar. Dalam proposal, kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 2–3 Oktober di Lapangan Islamic Centre, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Kegiatan tersebut dirancang melibatkan 960 pelajar dari 48 sekolah. Mereka akan didampingi 96 pembina, serta 60 panitia. Total peserta dan penyelenggara mencapai 1.116 orang.

Persoalan muncul karena rencana kemah tersebut berlangsung ketika Kotim masih menghadapi karhutla dan dampak kabut asap. Di sisi lain, kebijakan belajar dari rumah (BDR) masih diberlakukan sebagai bagian dari upaya menyikapi kondisi udara.

Sementara itu, persiapan kegiatan disebut telah berlangsung di sejumlah sekolah. Kondisi itu kemudian menuai sorotan dari orang tua dan guru. Mereka bukan mempersoalkan kegiatan kepramukaan, melainkan mempertanyakan urgensi kegiatan yang melibatkan banyak anak ketika kualitas udara belum sepenuhnya aman.

RA, orang tua salah seorang calon peserta, mengaku khawatir dengan kondisi tersebut. Menurutnya, kegiatan kepramukaan tetap memiliki sisi positif, tetapi kesehatan anak harus menjadi pertimbangan utama.

 

“Kalau kegiatannya positif tentu kami sebagai orang tua mendukung. Tapi kondisi sekarang masih ada asap. Kami khawatir kalau anak-anak terlalu lama berada di luar ruangan,” ujarnya, Kamis (10/9).

RA juga mempertanyakan kewajiban siswa mengikuti latihan di sekolah ketika kebijakan BDR masih berjalan.

“Kalau untuk kegiatan belajar saja anak diminta BDR karena kondisi udara, kenapa untuk latihan kemah mereka harus datang ke sekolah? Ini yang kontradiktif sekali,” katanya.

Berdasarkan proposal, KCP 2026 memang didominasi aktivitas luar ruang. Peserta dijadwalkan mengikuti berbagai kegiatan, mulai Scout Journey, jelajah, LKBB, yel-yel, kegiatan tandu, sandi, semaphore, Morse hingga outbound.

Pada malam hari, peserta juga dijadwalkan mengikuti upacara api unggun, pentas seni dan malam kebersamaan.

Terpisah, pihak Kwaran Gerakan Pramuka Mentawa Baru Ketapang justru secara tegas mengingatkan panitia agar menunda kegiatan kemah pelajar, di tengah bahaya kabut asap akibat karhutla.

Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran) Gerakan Pramuka Mentawa Baru Ketapang yang juga Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, bersama Ketua Kwaran Nur Firmansyah, menilai keselamatan dan kesehatan peserta didik harus menjadi prioritas.

Kwaran bahkan menerbitkan surat Nomor 45/151202-C tertanggal 10 September 2026 yang ditujukan kepada seluruh Ketua Gugus Depan. Melalui surat tersebut, kegiatan perkemahan dan aktivitas kepramukaan di luar ruangan diminta ditunda sampai kondisi dinyatakan aman dan memungkinkan.

Firmansyah mengatakan, kekhawatiran orang tua terhadap kondisi anak-anak sangat wajar. Terlebih, kondisi udara masih terdampak kabut asap dan kegiatan belajar peserta didik masih dilakukan dari rumah.

“Orang tua pasti menginginkan kegiatan anak-anaknya berlangsung dalam kondisi yang aman dan sehat. Karena itu, kekhawatiran tersebut bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan,” paparnya.

Dia menegaskan, permintaan penundaan bukan berarti Kwaran menolak kegiatan kemah tersebut. Menurutnya, kegiatan perkemahan tetap memiliki manfaat dalam membentuk kemandirian, disiplin, kebersamaan dan kepemimpinan siswa.

“Bukan berarti kegiatan perkemahan dibatalkan. Kita hanya perlu menunggu sampai kondisi benar-benar memungkinkan dan udara kembali normal,” ujarnya.

Firmansyah meminta panitia tidak memaksakan kegiatan apabila kondisi belum aman. Persiapan yang sudah dilakukan, kata dia, dapat dialihkan ke kegiatan dalam ruangan apabila memungkinkan.

 

“Kalau kondisi masih belum memungkinkan, jangan dipaksakan. Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi pertimbangan utama,” tegasnya.

Dia berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi pertentangan antara panitia, sekolah dan masyarakat. Semua pihak, kata dia, memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan peserta didik dapat mengikuti kegiatan dalam kondisi aman.

“Rencana baik tetap kita dukung. Tetapi waktu pelaksanaannya harus menunggu keadaan yang baik pula,” pungkas Firmansyah.(ang/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
kwaran pelajar ditunda pramuka perkemahan