Kemah Ceria Penggalang 2026 Belum Final, Disdik Kotim Buka Opsi Geser ke Bulan November

Rado. • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:56 WIB
Kabut asap pekat menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (31/8/2026).
Kabut asap pekat menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (31/8/2026).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Rencana Kemah Ceria Penggalang (KCP) 2026 yang melibatkan lebih dari seribu pelajar di Kotawaringin Timur (Kotim) belum dipastikan digelar.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim menyebut jadwal yang tercantum dalam proposal, yakni 2–3 Oktober, masih sebatas rencana.

Kepala Disdik Kotim Yolanda Fenisia mengatakan pihaknya telah melakukan klarifikasi kepada pihak yang merencanakan kegiatan tersebut. Hasilnya, kegiatan memang masuk agenda, tetapi belum ada kepastian pelaksanaan.

“Sudah kami klarifikasi sama pihak rencana penyelenggaranya. Memang itu ada rencana, tapi belum tentu jadi,” ujar Yolanda usai pelantikan pejabat Pemkab Kotim di Gedung Serbaguna Sampit, Jumat (11/9/2026).

Menurut dia, apabila kegiatan tetap dilaksanakan, waktunya bahkan berpotensi digeser ke November. Namun, keputusan tersebut juga belum final.

Baca Juga: BDR karena Asap, Siswa Malah Disiapkan Kemah, Lha Kok Bisa?

“Memang agendanya kemungkinan kalau memang mau dilaksanakan itu di November. Tapi belum tentu jadi, belum pasti,” katanya.

Klarifikasi tersebut berbeda dengan proposal KCP 2026 yang mencantumkan pelaksanaan pada 2–3 Oktober di Lapangan Islamic Centre, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Dalam proposal itu, kegiatan dirancang melibatkan 960 pelajar dari 48 sekolah. Mereka didampingi 96 pembina, dengan 60 orang sebagai panitia. Total peserta dan pengelola kegiatan mencapai 1.116 orang.

Rencana tersebut menjadi sorotan karena muncul ketika Kotim masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap. Di tengah kondisi itu, kebijakan belajar dari rumah (BDR) juga masih diberlakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi paparan asap terhadap pelajar.

Persoalan lain muncul karena persiapan kegiatan disebut telah berlangsung di sejumlah sekolah. Sejumlah siswa bahkan disebut tetap datang ke sekolah untuk mengikuti latihan sebagai persiapan menghadapi kemah.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran dari orang tua dan guru. Mereka mempertanyakan urgensi kegiatan yang melibatkan banyak anak ketika kondisi udara belum sepenuhnya aman.

RA, salah seorang orang tua calon peserta, mengatakan dirinya tidak mempersoalkan kegiatan kepramukaan. Namun, kondisi kesehatan anak menurutnya tetap harus menjadi pertimbangan utama.

“Kalau kegiatannya positif tentu kami sebagai orang tua mendukung. Tapi kondisi sekarang masih ada asap. Kami khawatir kalau anak-anak terlalu lama berada di luar ruangan,” ujarnya, Kamis (10/9).

Baca Juga: Gantikan Umar Kaderi, Diana Setiawan Dilantik Jadi Pj Sekda Kotim

RA juga mempertanyakan kewajiban siswa mengikuti latihan di sekolah ketika pembelajaran tatap muka masih dibatasi melalui kebijakan BDR.

“Kalau untuk kegiatan belajar saja anak diminta BDR karena kondisi udara, kenapa untuk latihan kemah mereka harus datang ke sekolah? Ini yang kontradiktif sekali,” katanya.

Kekhawatiran serupa disampaikan salah seorang guru di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Dia membenarkan adanya rencana kegiatan tersebut, tetapi mengaku kurang sepakat apabila kemah tetap digelar dalam situasi karhutla seperti sekarang.

“Rasanya enggak etis kalau kita kegiatan ramai-ramai sementara kita tengah berjibaku urusan bencana. Tapi karena katanya ini sudah kesepakatan dilaksanakan, ya mau enggak mau diikuti saja,” ujarnya.

Baca Juga: Inilah 16 Nama Pejabat Strategis Kotim yang Bergeser, Halikinnor Minta Gerak Cepat

Menurutnya, kondisi karhutla semestinya menjadi salah satu pertimbangan sebelum kegiatan dilaksanakan.

“Kalau situasinya normal mungkin tidak masalah. Tapi sekarang kondisinya sedang seperti ini. Kami juga khawatir dengan anak-anak,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan proposal KCP 2026, sebagian besar kegiatan merupakan aktivitas luar ruang. Peserta dijadwalkan mengikuti Scout Journey, jelajah, lomba ketangkasan baris-berbaris (LKBB), yel-yel, kegiatan tandu, sandi, semaphore, Morse hingga outbound.

Pada malam hari, peserta juga direncanakan mengikuti upacara api unggun, pentas seni dan malam kebersamaan.

Dengan adanya klarifikasi dari Disdik Kotim, jadwal pelaksanaan pada 2–3 Oktober belum dapat dianggap sebagai keputusan final. Kegiatan disebut berpeluang digeser ke November, tetapi Disdik menegaskan keputusan pelaksanaannya pun masih belum dipastikan. (ang)

Editor : Slamet Harmoko
KCP 2026 Kemah Ceria Penggalang Disdik Kotim kabut asap