SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebijakan belajar dari rumah (BDR) diterapkan di tengah kualitas udara yang terganggu asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur (Kotim). Namun, di saat yang sama, ribuan pelajar justru disiapkan mengikuti Kemah Ceria Penggalang (KCP) 2026.
Rencana kegiatan tersebut menuai sorotan dari orang tua dan guru. Pasalnya, persiapan KCP disebut sudah mulai dilakukan di sejumlah sekolah di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Sejumlah siswa bahkan diwajibkan datang ke sekolah untuk mengikuti latihan.
Kondisi itu dinilai kontradiktif. Di satu sisi, aktivitas pembelajaran tatap muka dibatasi untuk mengurangi paparan anak terhadap udara yang tidak sehat. Di sisi lain, siswa tetap diarahkan mengikuti kegiatan di luar rumah untuk mempersiapkan kemah.
KCP 2026 dijadwalkan berlangsung pada 2-3 Oktober di Lapangan Islamic Centre, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Kegiatan tersebut melibatkan 960 pelajar dari 48 sekolah, 96 pembina pendamping dan 60 panitia.
Total terdapat 1.116 orang yang direncanakan terlibat dalam kegiatan tersebut.
Aktivitas Didominasi Kegiatan Luar Ruang
Persoalan utama yang disorot bukan kegiatan kepramukaannya, melainkan waktu pelaksanaan di tengah kondisi karhutla dan kualitas udara yang masih menjadi perhatian.
Rangkaian KCP 2026 juga didominasi aktivitas luar ruang. Peserta dijadwalkan mengikuti Scout Journey, jelajah, LKBB, yel-yel, kegiatan tandu, sandi, semaphore, Morse hingga outbound.
Pada malam hari, peserta juga dijadwalkan mengikuti upacara api unggun, pentas seni dan malam kebersamaan.
RA, orang tua salah seorang calon peserta, mengaku khawatir dengan kondisi tersebut. Ia menegaskan tidak mempersoalkan kegiatan kepramukaan, tetapi meminta faktor kesehatan anak menjadi pertimbangan utama.
“Kalau kegiatannya positif tentu kami sebagai orang tua mendukung. Tapi kondisi sekarang masih ada asap. Kami khawatir kalau anak-anak terlalu lama berada di luar ruangan,” ujarnya, Kamis (10/9).
RA juga mempertanyakan kewajiban siswa mengikuti latihan di sekolah ketika kebijakan BDR masih diberlakukan.
“Kalau untuk kegiatan belajar saja anak diminta BDR karena kondisi udara, kenapa untuk latihan kemah mereka harus datang ke sekolah? Ini yang kontradiktif sekali,” katanya.
Guru Ikut Khawatir
Kekhawatiran serupa disampaikan salah seorang guru di wilayah MB Ketapang. Ia membenarkan adanya rencana kegiatan tersebut, tetapi mengaku tidak sepakat apabila persiapan maupun pelaksanaan tetap dilakukan ketika kondisi udara masih terdampak asap.
“Rasanya enggak etis kalau kita kegiatan ramai-ramai sementara kita tengah berjibaku urusan bencana. Tapi karena katanya ini sudah kesepakatan dilaksanakan, ya mau enggak mau diikuti saja,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi karhutla semestinya menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum kegiatan yang melibatkan banyak anak digelar.
“Kalau situasinya normal mungkin tidak masalah. Tapi sekarang kondisinya sedang seperti ini. Kami juga khawatir dengan anak-anak,” katanya.
LBH Minta Keselamatan Anak Diutamakan
Rencana KCP 2026 sebelumnya juga mendapat perhatian dari LBH Kotim. Lembaga tersebut meminta Pemkab Kotim mengevaluasi kegiatan dan memastikan keselamatan peserta tidak dikalahkan oleh kepentingan pelaksanaan acara.
“Jangan pertaruhkan keselamatan ribuan anak hanya demi memaksakan sebuah kegiatan. Kalau kondisi udara masih tercemar asap karhutla, kegiatan luar ruang harus dievaluasi,” tegasnya.
LBH juga meminta aspek tanggung jawab hukum diperhatikan apabila kegiatan tetap dilaksanakan ketika kondisi dinilai tidak aman.
“Kalau risiko sudah diketahui tetapi kegiatan tetap dipaksakan tanpa mitigasi yang memadai, siapa yang bertanggung jawab kalau peserta terdampak?” tegasnya.
Sorotan tersebut pada akhirnya bukan ditujukan untuk menghentikan kegiatan kepramukaan, melainkan memastikan pelaksanaan kegiatan yang melibatkan ribuan pelajar disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kesehatan.
Dengan jumlah peserta mencapai 1.116 orang serta rangkaian kegiatan yang banyak dilakukan di luar ruang, evaluasi terhadap kondisi udara dan kesiapan mitigasi menjadi penting sebelum kegiatan dilaksanakan. (*)
Editor : Slamet Harmoko