Asap Dikhawatirkan Ganggu Peserta Perkemahan Pramuka

Rado. • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:40 WIB

Salah satu aktivitas kegiatan perkemahan anggota pramuka (dok)

Salah satu aktivitas kegiatan perkemahan anggota pramuka (dok)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih kerap menyelimuti Kotawaringin Timur, khususnya Kota Sampit. Sementara itu, ribuan Pramuka pelajar, bakal dipersiapkan mengikuti Kemah Ceria Penggalang (KCP) 2026.

Berdasarkan informasi yang diterima jurnalis Radar Sampit, KCP 2026 itu dijadwalkan berlangsung 2-3 Oktober di Lapangan Islamic Center, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Kegiatan melibatkan 960 pelajar dari 48 sekolah, 96 pembina pendamping dan 60 panitia. Total mencapai 1.116 orang.

Pada perkemahan itu, peserta dijadwalkan mengikuti Scout Journey, jelajah, LKBB, yel-yel, kegiatan tandu, sandi, semaphore, Morse hingga outbound. Malam harinya terdapat upacara api unggun, pentas seni dan malam kebersamaan.

Rencana kegiatan itu pun disoroti salah satu orang tua pelajar yang namanya minta diinisialkan RA. Ia mengaku khawatir dengan kondisi tersebut. Dia tidak mempersoalkan kegiatan kepramukaan, tetapi meminta kesehatan anak menjadi pertimbangan utama.

“Kalau kegiatannya positif tentu kami sebagai orang tua mendukung. Tapi kondisi sekarang masih ada asap. Kami khawatir kalau anak-anak terlalu lama berada di luar ruangan,” ujarnya (10/9/2026).

Baca Juga: Hari Pramuka ke-65, Seruyan Dorong Generasi Muda Makin Mandiri dan Terampil

RA juga mempertanyakan kewajiban siswa mengikuti latihan di sekolah ketika belajar dari rumah (BDR) masih berjalan.“Kalau untuk kegiatan belajar saja anak diminta BDR karena kondisi udara, kenapa untuk latihan kemah mereka harus datang ke sekolah? Ini yang  kontradiktif sekali,” katanya.

Kekhawatiran serupa disampaikan salah seorang guru  sekolah di wilayah MB Ketapang. Dia membenarkan rencana tersebut, tetapi mengaku tidak sepakat jika kegiatan tetap digelar dalam situasi sekarang.

“Rasanya enggak etis kalau kita kegiatan ramai-ramai sementara kita tengah berjibaku urusan bencana. Tapi karena katanya ini sudah kesepakatan dilaksanakan, ya mau enggak mau diikuti saja,” ujar seorang pengajar yang namanya tidak mau disebutkan ini.

Menurutnya, kondisi karhutla semestinya menjadi pertimbangan sebelum kegiatan dilaksanakan.“Kalau situasinya normal mungkin tidak masalah. Tapi sekarang kondisinya sedang seperti ini. Kami juga khawatir dengan anak-anak,” pungkasnya. (ang/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
pelajar pramuka perkemahan kabut asap karhutla