SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai tidak akan selesai jika persoalan distribusi BBM ke wilayah pedalaman tidak ikut dibenahi.
Hal itu disampaikan Anggota Fraksi Gerindra DPRD Kotim, Andi Lala, saat menyampaikan pandangannya di hadapan Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Depo Sampit.
Andi Lala meminta Pertamina tidak hanya fokus menambah pasokan BBM di SPBU wilayah Sampit. Menurutnya, distribusi BBM hingga pedalaman juga perlu diperkuat, terutama dengan mengoptimalkan Pertashop yang sudah tersedia.
Ia mendorong Pertamina menyalurkan Pertamax ke Pertashop yang ada di Kotim, terutama sepanjang jalur Sampit hingga Antang Kalang. Menurutnya, keberadaan Pertamax di Pertashop dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan terhadap SPBU di Sampit.
"Kalau seandainya Pertashop itu kita aktifkan semua, tidak usah isi Pertalite. Isi Pertamax saja. Itu akan sangat membantu dan yakin saja antrean di Sampit ini pasti berkurang," kata Andi Lala.
Ia menyebut sejumlah Pertashop di jalur tersebut justru terlihat tidak aktif. Bahkan, sebagian fasilitas disebut sudah ditumbuhi rumput dan lumut.
"Saya lihat ada Pertashop yang sudah tumbuh rumputnya, ada yang tumbuh lumutnya. Nanti dicek itu, apakah mereka tidak aktif karena tidak dikasih suplainya atau seperti apa," ujarnya.
Andi Lala menyebut Pertashop terdapat di sejumlah wilayah seperti Parenggean, Antang Kalang dan Telaga Antang. Jika Pertamax tersedia di fasilitas tersebut, masyarakat di pedalaman tidak perlu sepenuhnya bergantung kepada penjual BBM eceran atau pelangsir.
Menurutnya, meningkatnya akses terhadap BBM resmi juga secara otomatis dapat mengurangi permintaan kepada pelangsir. Dengan demikian, ketergantungan masyarakat terhadap distribusi BBM melalui jalur tidak resmi di wilayah pelosok dapat ditekan.
"Kalau Pertamax hadir, maka permintaan kepada penjual pelangsir akan berkurang. Jadi secara otomatis mengurangi ketergantungan daerah 3T," katanya.
Ia menilai harga BBM di pelosok saat ini menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Andi Lala menyebut harga Pertalite di sejumlah wilayah pedalaman bisa mencapai Rp25 ribu per liter.
"Harga BBM Pertalite di pelosok itu di angka Rp25 ribu per liter. Artinya kalau Pertamax harga Rp16 ribuan, itu tidak masalah," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat akan lebih memilih mendapatkan BBM dari Pertashop jika harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan membeli BBM eceran dengan harga tinggi.
Andi Lala menegaskan solusi tersebut sangat bergantung pada kemauan Pertamina untuk mengoptimalkan jalur distribusi yang sudah tersedia.
"Ini tergantung Pertamina mau menyalurkan untuk memecahkan masalah di Kotim," tegasnya.
Ia berharap Pertamina segera mengevaluasi Pertashop yang tidak aktif dan membuka peluang penyaluran Pertamax ke fasilitas tersebut, khususnya di sepanjang jalur Sampit hingga Antang Kalang.
Menurutnya, langkah itu tidak hanya membantu mengurai antrean SPBU di Sampit, tetapi juga memberikan kepastian akses BBM bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota.(ang)
Editor : Slamet Harmoko