Kebun Terancam Hangus, Warga Sungai Paring dan Luwuk Bunter Berjibaku Padamkan Karhutla

Rado. • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 22:10 WIB
Warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan peralatan seadanya, berusaha mencegah meluasnya kebakaran di areal perkebunan sawit mereka, baru-baru tadi. (ist)
Warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan peralatan seadanya, berusaha mencegah meluasnya kebakaran di areal perkebunan sawit mereka, baru-baru tadi. (ist)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Api terus melahap sejumlah lahan perkebunan  warga di wilayah Desa Sungai Paring dan Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Puluhan hektare kebun yang ditanami kelapa sawit dan karet hangus terbakar.

Kondisi lahan yang kering membuat kobaran api sulit dikendalikan. Warga pun harus berjibaku melakukan pemadaman secara swadaya dengan peralatan dan pasokan air yang terbatas.

Ketua BPD Desa Luwuk Bunter, Suparjo, mengatakan kebakaran telah menghanguskan puluhan hektare lahan masyarakat. Upaya pemadaman terkendala sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi.

“Sudah puluhan hektare dimakan api. Ini sulit dibendung karena pasokan air sangat minim, lahannya memang kering,” kata Suparjo.

Kebakaran ini tidak hanya mengancam lahan, tetapi juga sumber penghidupan warga. Kebun kelapa sawit dan karet yang terbakar merupakan tempat masyarakat menggantungkan ekonomi keluarga.“Kan kebun untuk cari nafkah. Jadi di situ juga terbakar,” ujarnya.

Warga hingga kini masih mengandalkan kekuatan sendiri untuk menghadang laju api. Suparjo menyebut belum ada bantuan peralatan pemadam dari pemerintah yang diterima masyarakat di lokasi.

Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah selang panjang dan embung darurat. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk mendekatkan sumber air ke titik kebakaran.

Baca Juga: Karhutla Mengancam Kebun, Warga Desa Bagendang Tengah Terkendala Air dan Peralatan

“Yang diperlukan sebenarnya selang serta embung darurat untuk menampung air,” katanya.

Api diketahui mulai membakar lahan sejak Minggu siang. Kobaran terus merambat di lahan yang kering dan sulit dijangkau sumber air. Lokasi kebakaran juga berada tidak jauh dari konsesi perkebunan PT Task 3.

Di tengah kepungan api, warga berharap seluruh pihak tidak tinggal diam. Penanganan kebakaran dinilai membutuhkan dukungan peralatan dan pasokan air yang lebih memadai agar api tidak semakin meluas.

Warga lainnya, Indra, juga menyoroti minimnya bantuan dari pihak perusahaan. Ia mengatakan pada hari pertama kebakaran perusahaan sempat mengirim satu truk air. Namun, bantuan tersebut tidak berlanjut pada hari berikutnya.

“Sudah minim alat, ditambah lagi kurangnya kepedulian. Imbauan pemerintah itu tidak ada gunanya kalau tidak turut membantu pemadaman,” sesalnya.

Indra menilai perusahaan semestinya lebih aktif membantu karena lokasi kebakaran berada tidak jauh dari wilayah konsesi. Ia berharap bantuan tidak berhenti hanya karena titik api berada di luar kawasan perusahaan.

“Karena mungkin di luar konsesi, jadi seadanya saja mereka membantu memadamkan,” ujarnya.

Bagi warga, persoalannya bukan lagi sekadar kebakaran lahan. Api telah mengancam kebun yang menjadi sumber nafkah. Jika tidak segera dikendalikan, kerugian masyarakat diperkirakan terus membesar.

Sementara itu, Kepala BPBD Kotim Multazam menyampaikan permohonan maaf atas kondisi penanganan kebakaran tersebut. Ia mengatakan pihaknya telah menyampaikan kepada pihak terkait agar segera menghubungi dunia usaha yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tadi kami ada sampaikan ke pihak terkait untuk menghubungi dunia usaha di sekitar daerah yang terbakar,” kata Multazam.

Menurutnya, perusahaan di sekitar lokasi semestinya dapat ikut membantu penanganan kebakaran. Dukungan dunia usaha dinilai penting, terutama dalam penyediaan sarana pemadaman dan pasokan air di tengah keterbatasan sumber air.“Seyogyanya bisa dibantu oleh perusahaan sekitar,” ujarnya.(ang)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
puluhan hektare lahan Swadaya kobaran api karhutla warga