Orangutan Muncul Saat Karhutla Melanda Bapanggang, BKSDA Pastikan Lokasinya Berbeda

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 11:17 WIB
Satu individu orangutan bergelantungan di atas pohon dekat dengan perkebunan warga di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, baru-baru ini. (Istimewa)
Satu individu orangutan bergelantungan di atas pohon dekat dengan perkebunan warga di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, baru-baru ini. (Istimewa)
 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com  – Kemunculan orangutan di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menjadi perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit. Satwa dilindungi tersebut sempat terlihat dan direkam warga tak jauh dari lokasi karhutla yang juga terjadi di wilayah desa tersebut.

Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan laporan kemunculan orangutan diterima dalam sepekan terakhir. Satwa tersebut terlihat di Jalan Jalur 2 Desa Bapanggang Raya.

Namun, Muriansyah memastikan lokasi kemunculan orangutan berbeda dengan titik karhutla yang terjadi di desa tersebut.

“Di Jalur 2 Desa Bapanggang. Kebakaran saat itu terjadi di Jalur 7,” kata Muriansyah.

Artinya, kemunculan orangutan tersebut tidak berada di lokasi yang sedang terbakar. BKSDA juga belum menyimpulkan adanya hubungan antara kemunculan satwa dengan kebakaran yang terjadi di wilayah Desa Bapanggang Raya.

Kemunculan orangutan juga sempat direkam warga. Dalam video tersebut, kondisi di sekitar lokasi memperlihatkan anakan sawit yang berserakan serta umbut sawit yang diduga telah dimakan satwa.

Setelah kemunculan yang terekam tersebut, orangutan tidak lagi terlihat di lokasi.

Meski demikian, BKSDA Resort Sampit tetap melakukan pemantauan. Petugas terus berkomunikasi dengan warga yang pertama kali melaporkan kemunculan satwa tersebut untuk mengetahui apabila orangutan kembali terlihat.

“Kami pantau terus dengan menghubungi warga pelapor,” ujar Muriansyah.

Pemantauan dilakukan untuk memastikan keberadaan satwa sekaligus mengetahui pergerakannya apabila kembali muncul di sekitar permukiman atau lahan warga.

Kemunculan orangutan di kawasan yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat menjadi perhatian karena satwa tersebut merupakan salah satu satwa dilindungi yang habitatnya masih terdapat di wilayah Kalimantan.

BKSDA perlu memastikan keberadaan satwa tetap aman sekaligus mencegah terjadinya konflik dengan masyarakat. Warga juga diharapkan segera melaporkan apabila kembali melihat orangutan di sekitar kebun maupun permukiman.

Sementara itu, kondisi berbeda dilaporkan dari Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. BKSDA menerima laporan mengenai satwa yang diduga kuat beruang madu merusak tanaman anakan sawit dan memakan umbut sawit milik warga.

Muriansyah mengatakan laporan tersebut juga menjadi bagian dari perhatian BKSDA Resort Sampit. Identifikasi terhadap satwa tetap diperlukan untuk memastikan jenis satwa yang beraktivitas di sekitar kebun warga.

Dua laporan tersebut menunjukkan aktivitas satwa liar masih ditemukan di sekitar wilayah yang juga menjadi ruang aktivitas masyarakat. Karena itu, pemantauan dan pelaporan warga menjadi penting untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa liar.

Khusus di Bapanggang Raya, hingga pemantauan terakhir orangutan belum kembali terlihat. BKSDA masih mengikuti perkembangan melalui komunikasi dengan warga pelapor. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
orang utan Bapanggang Raya