SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan konsentrasi di wilayah selatan.
Dalam pemantauan 24 jam terakhir, tiga kecamatan di kawasan tersebut menyumbang 218 dari total 296 hotspot yang terdeteksi.
Data rekapitulasi hotspot BMKG Kotim yang diakses dari satelit BRIN pada Minggu (16/8/2026 ) pukul 07.00 WIB mencatat total 296 titik panas di Kotim.
Dari jumlah tersebut, hotspot paling banyak berada di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan 115 titik. Kemudian disusul Teluk Sampit sebanyak 77 titik dan Mentaya Hilir Utara sebanyak 26 titik.
"Jika digabungkan, ketiga kecamatan tersebut menyumbang sekitar 74 persen dari seluruh hotspot yang terdeteksi di Kotim," ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit.
Konsentrasi paling tinggi terlihat di Mentaya Hilir Selatan. Dari 115 hotspot, terdapat sembilan titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Kecamatan ini juga memiliki sejumlah wilayah dengan jumlah hotspot cukup besar, salah satunya Samuda Besar yang mencapai 65 titik, termasuk enam titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Sementara di Teluk Sampit, tercatat 77 hotspot. Sebagian besar berada pada tingkat kepercayaan menengah, yakni 73 titik. Dua titik lainnya masuk kategori rendah dan dua titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Desa Lampuyang menjadi penyumbang terbesar di Kecamatan Teluk Sampit dengan 67 hotspot. Dari jumlah tersebut, 63 berada pada tingkat kepercayaan menengah, dua rendah dan dua tinggi.
Di Mentaya Hilir Utara terdapat 26 hotspot. Sebanyak 24 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah dan dua titik masuk kategori tinggi.
Secara keseluruhan, dari 296 hotspot di Kotim, sebanyak 278 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 15 titik tinggi dan tiga titik rendah.
Konsentrasi hotspot di wilayah selatan ini menjadi perhatian di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotim.
Data hotspot sendiri merupakan indikasi adanya titik panas berdasarkan pantauan satelit. Karena itu, keberadaan hotspot tetap membutuhkan pengecekan lapangan untuk memastikan apakah benar merupakan kebakaran atau kondisi lain yang terdeteksi sensor satelit.
Jangan hanya lihat jumlahnya. Sebarannya yang perlu diperhatikan. Dengan hampir tiga perempat hotspot berada di tiga kecamatan di wilayah selatan, kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pemantauan potensi karhutla Kotim. (oes)
Editor : Slamet Harmoko