SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Relawan disiagakan di desa dan kelurahan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengatakan sekitar 30 relawan terus berada di lapangan sejak status siaga hingga meningkat menjadi tanggap darurat. Mereka bekerja membantu penanganan kebakaran dan melakukan pemantauan di wilayah masing-masing.
“Kami para relawan di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang kurang lebih berjumlah 30 orang. Dari status siaga sampai status tanggap, kami terus berada di lapangan. Tanpa dibayar, mereka terus bekerja untuk menangani terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” katanya, Sabtu (15/8).
Menurut Irpansyah, setiap kelurahan dan desa telah diinstruksikan membuka pos lapangan. Langkah tersebut dilakukan agar respons terhadap kejadian kebakaran dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu pengerahan dari posko kabupaten.
“Khususnya kami di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang selalu siaga. Setiap kelurahan dan desa sudah kami instruksikan untuk membuka poslap-poslap lapangan yang mereka miliki,” tambahnya.
Selain kesiapsiagaan, pemerintah kecamatan terus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan api. Imbauan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di lahan, tetapi juga penggunaan sumber api di lingkungan permukiman.
“Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar berhati-hati dalam penggunaan atau menghidupkan api, bukan hanya untuk kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga di permukiman penduduk,” jelasnya.
Warga juga diminta memastikan peralatan listrik dan sumber api dalam kondisi aman sebelum meninggalkan rumah. Termasuk memastikan lilin telah dipadamkan apabila digunakan saat terjadi pemadaman listrik.
“Kita saat ini menghadapi musim kemarau. Jadi, kalau meninggalkan rumah, lihat semua kabel listrik apakah sudah dimatikan. Lilin-lilin juga harus dimatikan,” ucapnya.
Irpansyah menyebut karhutla telah berdampak terhadap sejumlah perkebunan sawit mandiri milik warga. Di Desa Eka Bahurui, sekitar dua hektare kebun sawit terdampak, sedangkan di Jalan Lembur Kuring sekitar satu hektare.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Desa Bapeang dengan luasan hampir dua hektare. Sementara untuk lahan pertanian hortikultura, hingga kini belum ada laporan terdampak kebakaran.
Terkait penyebab kebakaran, Irpansyah menduga sebagian kejadian dipicu aktivitas manusia, seperti pembakaran yang kemudian ditinggalkan.
“Ya mungkin karena masyarakat juga membakar lalu ditinggalkan. Kalau faktor alam kami lihat hanya nol sekian persen saja. Tetapi semuanya akibat ulah manusia juga,” ungkapnya.
Sementara itu, penanganan karhutla di sekitar Jalan MT Haryono masih dilakukan melalui pendinginan. Petugas berupaya mencegah api kembali menyala dan merembet ke kawasan Pelita Barat.
“Untuk kejadian kebakaran hutan dan lahan di seputaran MT Haryono, saat ini kami terus melakukan pendinginan. Jangan sampai nanti melebar masuk ke wilayah Pelita, Pelita Barat,” tegasnya.
Dalam penanganan di lapangan, petugas masih menghadapi kendala sumber air dan ketersediaan selang. Jarak titik api dengan sumber air yang cukup jauh membuat kebutuhan selang menjadi lebih banyak.
“Kendala kami air dan selang. Posisi api dengan sumber air cukup jauh sehingga diperlukan selang yang cukup banyak,” pungkasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko