SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berencana menggelar salat istisqa sebagai ikhtiar menghadapi musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah. Pelaksanaan salat untuk memohon turunnya hujan tersebut masih menunggu kesepakatan terkait waktu dan lokasi.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan rencana tersebut telah dibahas bersama Wakapolres Kotim dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim. Pemerintah daerah masih melakukan koordinasi untuk menentukan waktu pelaksanaan.
“Rencana sudah berunding kemarin dengan Pak Wakapolres dan juga Pak Sekda. Mudah-mudahan dilakukan kalau memang ada kesepakatan dan titik waktunya. Rencananya malam Minggu kalau tidak salah,” kata Rihel, Sabtu (15/8).
Baginya, salat istisqa menjadi salah satu ikhtiar bersama untuk memohon hujan segera turun di wilayah Kotim. Hujan sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak kekeringan sekaligus membantu menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Mudah-mudahan dengan doa istisqa itu hujan bisa turun di wilayah kita,” harapnya.
Terkait lokasi, Rihel menyebut hingga kini belum ada keputusan. Sejumlah tempat masih dipertimbangkan, termasuk lapangan yang dinilai memungkinkan untuk menampung jamaah.
“Masih belum, apakah di Rujab atau nanti dilakukan di lapangan seperti dulu. Kalau di lapangan, mungkin di lapangan Pemda karena ada rumputnya. Kalau di stadion kan susah,” jelasnya.
Ia mengatakan keputusan mengenai waktu dan lokasi akan ditetapkan setelah koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait.
Rihel mengungkapkan kondisi sumber air di Sampit dan sekitarnya saat ini mulai memprihatinkan. Sejumlah parit mengering, sementara permukaan air di beberapa lokasi dilaporkan berada lebih dari satu meter di bawah permukaan tanah.
“Kalau kita lihat di lapangan, di Kota Sampit pada umumnya sumber air rata-rata kosong, apalagi parit. Informasi kemarin, ketinggian air dari permukaan tanah lebih dari satu meter. Jadi otomatis kekeringan itu sangat kuat,” ungkapnya.
Kondisi tersebut juga meningkatkan potensi terjadinya karhutla. Karena itu, hujan sangat diharapkan untuk membantu mengurangi tingkat kekeringan dan mendukung upaya penanganan karhutla di wilayah Kotim.
Sementara itu, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September. Hingga kini belum ada informasi mengenai perubahan waktu puncak kemarau tersebut.
“Untuk sementara masih belum. Dari BMKG Kota Sampit maupun informasi pusat, sampai September itu masih menjadi puncak kemarau. Belum ada informasi apakah maju atau mundur,” bebernya.
Rihel menambahkan, perkembangan prakiraan musim akan kembali dievaluasi BMKG pada September. Pemerintah daerah akan menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan perkembangan cuaca dan potensi hujan di wilayah Kotim. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko