SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menimbulkan kabut asap yang mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat menyebabkan kerugian bagi sektor perkebunan.
Salah satunya terjadi di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), di mana sekitar 20 hektare perkebunan sawit milik masyarakat ikut terdampak karhutla. Pemerintah desa kini meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah api meluas ke lahan yang belum terbakar.
Kepala Desa Bagendang Tengah, Untung Sukardi, mengatakan lahan yang terdampak merupakan perkebunan sawit warga dengan usia tanaman yang beragam, mulai dari sekitar dua tahun hingga yang telah memasuki masa produktif.
Baca Juga: Karhutla masih Mengepung Kalteng. Berharap Modifikasi Cuaca Berhasil
“Yang sudah dipastikan terdampak sekitar 20 hektare. Kebanyakan kebun sawit milik warga. Ada yang baru berumur sekitar dua tahun, ada juga yang sudah tiga tahun dan sudah memasuki masa produktif,” ujarnya saat dikonfirmasi Radar Sampit, Kamis (13/8).
Menurut Untung, tanaman sawit yang masih muda berpotensi mati akibat terbakar. Sementara tanaman yang telah memasuki masa produksi belum tentu mati, tetapi pertumbuhannya dapat terganggu dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
“Kalau sawit yang baru ditanam mungkin bisa mati. Kalau yang sudah produksi mungkin tidak mati, tetapi pertumbuhannya terhambat, tidak subur dan lambat pemulihannya. Kerugian warga di situ karena tidak bisa dipanen,” tambahnya.
Ia melanjutkan, kebakaran mulai berdampak dalam beberapa pekan terakhir, terutama saat angin kencang. Hingga kini, lanjut Untung, pemerintah desa belum dapat menghitung nilai kerugian secara keseluruhan karena pendataan terhadap lahan terdampak masih berlangsung.
Baca Juga: Kabut Asap Kepung Sampit Pagi Hari, Jarak Pandang Sempat 300 Meter
Dirinya mengatakan api masih menyala di sejumlah titik perkebunan. Kondisi tersebut membuat pemerintah desa bersama masyarakat memprioritaskan penjagaan terhadap lahan yang belum terbakar agar tidak ikut terdampak.
“Masih hidup, apinya masih hidup. Kami sekarang menjaga yang belum terbakar, termasuk kebun desa dan kebun masyarakat,” ucapnya.
Ia menilai pengalaman kebakaran pada musim kemarau sebelumnya perlu menjadi pelajaran bagi masyarakat. Pemerintah desa juga telah memiliki pemetaan wilayah yang rawan terbakar sehingga pemilik kebun diminta meningkatkan kewaspadaan.
“Kalau musim kemarau sudah berlangsung dua sampai tiga bulan, kebun itu biasanya ada saja yang terbakar. Karena itu, kita sudah tahu pemetaannya. Tinggal bagaimana masing-masing pemilik kebun menjaga lahannya agar tidak terbakar,” pungkasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko