SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali meningkat.
Data pemantauan satelit yang diakses Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim pada Rabu (12/8/2026) pukul 07.00 WIB mencatat 325 hotspot dalam akumulasi 24 jam terakhir.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 286 titik tingkat kepercayaan menengah, dan 26 titik tingkat kepercayaan tinggi.
Wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak tercatat di Mentaya Hilir Utara, yakni 75 titik. Disusul Kotabesi 61 titik dan Teluk Sampit 59 titik.
Baca Juga: Hari Ini Ada 237 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Batuah dan Soren Jadi Sorotan
Namun, jika dilihat dari tingkat kepercayaan tinggi, Teluk Sampit menjadi wilayah yang paling menonjol. Kecamatan tersebut memiliki 9 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, 49 tingkat menengah dan satu tingkat rendah.
Posisi berikutnya ditempati Mentaya Hilir Utara dengan tujuh hotspot tingkat kepercayaan tinggi. Kotabesi dan Baamang masing-masing memiliki tiga titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Sementara itu, beberapa wilayah lain juga mencatat hotspot dalam jumlah cukup tinggi. Baamang sebanyak 45 titik, Mentaya Hilir Selatan enam titik, Antang Kalang enam titik, Cempaka enam titik, Bukit Santuai sembilan titik, serta Telawang delapan titik.
Baca Juga: Gubernur Agustiar Sabran Sebut Hidran Tak Berfungsi Bisa Jadi Bukti Kelalaian
Di wilayah yang menjadi sorotan sebelumnya, Batuah tercatat memiliki 17 hotspot, terdiri dari 16 titik dengan tingkat kepercayaan menengah dan satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Sedangkan Soren mencatat 47 hotspot. Rinciannya, satu titik tingkat kepercayaan rendah, 43 tingkat menengah dan tiga tingkat tinggi.
Data tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot tidak hanya berada di satu kawasan. Titik panas tersebar di sejumlah kecamatan, terutama wilayah yang mengalami kondisi kering selama musim kemarau.
Meski demikian, keberadaan hotspot berdasarkan pantauan satelit tidak serta-merta berarti seluruh titik merupakan kebakaran yang sedang berlangsung di permukaan.
Sebelumnya, Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengingatkan bahwa data hotspot tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Menurut dia, satu hamparan lahan yang terbakar dapat menghasilkan sejumlah titik hotspot karena panas dari area tersebut bisa ditangkap oleh satelit dari beberapa titik.
Baca Juga: Tragedi Palangka Raya, Dua Balita Terjebak Kobaran Api, Sang Ibu Hanya Sempat Selamatkan Satu Bayi
"Kalau dalam satu wilayah desa banyak hotspot, bisa dua kemungkinan. Satu memang tersebar di berbagai lokasi, hotspot-nya saling berjauhan," jelas Rihel.
Kemungkinan lainnya, sejumlah hotspot berada dalam satu hamparan yang sama. Misalnya, dalam areal lima hingga 10 hektare terdapat puluhan titik yang terdeteksi satelit.
"Misalnya satu areal itu lima sampai 10 hektare, bisa ditemukan hotspot 20 titik. Tapi satu hamparan, itu satu areal saja," ujarnya.
Karena itu, angka hotspot lebih tepat dipandang sebagai indikator awal adanya anomali panas, bukan sebagai jumlah pasti lokasi kebakaran.
Baca Juga: Tiga Terdakwa Peredaran 9 Kg Sabu Sampit Dituntut Hukuman Mati, Seperti Ini Jalan Kasusnya
Satgas Karhutla Kotim tetap membutuhkan pengecekan di lapangan untuk memastikan apakah titik panas tersebut benar-benar menunjukkan api aktif atau sudah tidak menyala.
Dengan total 325 hotspot dalam 24 jam terakhir, kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah musim kemarau dan tingginya potensi kebakaran di sejumlah wilayah Kotim. (oes)
Editor : Slamet Harmoko