Karhutla Belum Reda, Bupati Minta Laporan Titik Api Tak Boleh Terlambat

M. Akbar • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 12:40 WIB
Kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur berdampak besar terhadap kelangsungan hidup satwa liar, dalam beberapa hari terakhir dilaporkan ada orangutan yang lari ke permukiman warga untuk menghindari kebakaran. (Satgas Karhutla Kotim)
Kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur berdampak besar terhadap kelangsungan hidup satwa liar, dalam beberapa hari terakhir dilaporkan ada orangutan yang lari ke permukiman warga untuk menghindari kebakaran. (Satgas Karhutla Kotim)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Halikinnor, meninjau Posko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Sabtu (8/8).

Peninjauan tersebut untuk memastikan kesiapan menghadapi ancaman karhutla yang meningkat selama musim kemarau.

Dalam kesempatan itu, Halikinnor menekankan pentingnya memperkuat pencegahan sekaligus mempercepat respons setiap kali ditemukan titik api. Langkah tersebut dinilai penting agar kebakaran dapat segera ditangani sebelum meluas.

Peninjauan dilakukan untuk melihat kesiapan personel, sarana dan prasarana, peralatan pemadaman, serta dukungan operasional posko selama masa tanggap darurat karhutla dan kekeringan di sejumlah wilayah Kotim.

Halikinnor juga meminta jajaran BPBD bersama unsur terkait meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat koordinasi. Setiap laporan mengenai kebakaran harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan dan penanganan di lapangan.

“Kondisi cuaca yang kering meningkatkan risiko karhutla sekaligus menyulitkan proses pemadaman. Karena itu, kesiapan seluruh unsur menjadi hal penting selama status tanggap darurat berlangsung,” ucapnya.

Selain kesiapan penanganan, Halikinnor meminta upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat terus ditingkatkan. Warga diingatkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Menurutnya, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan melakukan penanganan ketika api sudah terlanjur meluas.

“Pencegahan sejak dini jauh lebih efektif untuk menekan dampak karhutla. Kalau kebakaran sudah meluas, penanganannya akan lebih sulit dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, lingkungan, serta aktivitas transportasi,” jelasnya.

Halikinnor menegaskan, pengendalian karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah. Keterlibatan BPBD, aparat keamanan, dunia usaha, pemerintah desa, hingga masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas.

Ia meminta seluruh unsur menjaga komunikasi dan segera bergerak apabila menemukan indikasi maupun titik api di wilayah masing-masing.

“Dengan kesiapan personel, dukungan sarana dan prasarana, serta partisipasi masyarakat dalam mencegah kebakaran, kami berharap kejadian karhutla dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas,” pungkasnya. (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
titik api karhutla