Kekeringan Parah Melanda Teluk Sampit, Petani Terancam Gagal Panen

M. Akbar • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 10:49 WIB
Ilustrasi Gagal Panen (AI)
Ilustrasi Gagal Panen (AI)

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Musim kemarau yang berlangsung hampir satu bulan mulai berdampak terhadap tanaman padi di Desa Kuin Permai, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Petani setempat, Syahrunal, menyebut hampir separuh dari lahan garapannya terancam gagal panen akibat kekurangan air.

Syahrunal mengatakan, dari sekitar dua hektare lahan yang ditanaminya, sekitar satu hektare atau 50 persen mengalami kerusakan. Bulir padi banyak yang hampa karena kebutuhan air tidak terpenuhi.

“Isi padi banyak yang hampa atau kosong akibat kekurangan air. Dari lahan sekitar dua hektare, hampir satu hektare terancam gagal panen,” ujarnya, Minggu (9/8).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat hasil produksi turun drastis. Dalam kondisi normal, satu hektare lahan dapat menghasilkan sekitar tiga hingga empat ton gabah. Namun, saat ini hasilnya diperkirakan hanya sekitar 1,2 ton per hektare.

“Biasanya satu hektare bisa menghasilkan tiga sampai empat ton. Sekarang hanya dapat sekitar 1,2 ton,” terangnya.

Syahrunal menilai kemarau tahun ini tergolong lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya masih terdapat hujan meski intensitasnya rendah, tahun ini hujan tidak turun selama hampir satu bulan.

“Musim kemarau kali ini lumayan parah. Biasanya masih ada hujan walaupun tidak sering. Kalau sekarang belum ada hujan sama sekali,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menyebabkan pengairan sawah tidak maksimal. Tanah mulai mengalami retak dan pertumbuhan tanaman terganggu. Untuk mempertahankan tanaman yang masih ada, petani sementara mengandalkan cadangan air dari saluran irigasi sekunder yang bersumber dari sungai.

Di tengah kondisi tersebut, Syahrunal memilih mengurangi biaya perawatan tanaman. Ia tidak ingin menambah beban produksi karena sebagian tanaman sudah dipastikan mengalami kerusakan.

“Saya tidak berani mengambil risiko. Saat ini saya mengurangi biaya produksi karena tanaman jarang dirawat. Kalau dipaksakan, biaya perawatan justru bertambah, sedangkan hasil panen sudah bisa dipastikan menurun. Yang ada malah tambah rugi,” ucapnya.

Kerugian semakin terasa karena hasil produksi tidak sebanding dengan biaya operasional. Meski harga gabah saat ini masih berada di kisaran Rp6.300 per kilogram, pendapatan yang diperoleh belum mampu menutupi biaya produksi.

“Kalau dihitung, tetap rugi. Biasanya bisa dapat tiga sampai empat ton per hektare, sekarang hanya sekitar satu ton lebih. Penjualan gabah belum bisa menutupi biaya produksi,” tuturnya.

Syahrunal berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan untuk petani, terutama dalam mengatasi persoalan ketersediaan air. Menurutnya, air menjadi kebutuhan paling penting bagi petani selama musim kemarau.

“Kalau kemarau, yang paling dikhawatirkan jelas air. Memang ada bantuan dari pemerintah, tetapi masih dalam proses dan belum keluar,” pungkasnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
Teluk Sampit petani pertanian gagal panen kotim