Panjangnya Antrean BBM Membuat Jengkel Warga Hingga Akademisi

Rado. • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 21:40 WIB
Antrean ratusan kendaraan untuk mendapatkan pertalite di salah satu SPBU, baru-baru tadi. (dok.radarsampit)
Antrean ratusan kendaraan untuk mendapatkan pertalite di salah satu SPBU, baru-baru tadi. (dok.radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Mengisi tangki kendaraan dengan Pertalite di SPBU, kini bukan lagi pekerjaan memakan waktu singkat. Hampir setiap hari, antrean ratusan sepeda motor dan mobil nampak mengular di sekitar SPBU, di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Situasi itu pun membuat jengkel warga.

Ahmad (42), warga Sampit, mengaku hampir setiap hari harus berhadapan dengan antrean panjang ketika hendak mengisi Pertalite.

"Kalau lagi ramai, bisa lebih dari dua jam menunggu. Kendaraan sudah ratusan, mengular sampai keluar SPBU. Kami cuma mau isi tangki motor supaya bisa bekerja, tetapi harus mengorbankan waktu sebanyak itu. Saya bingung, apakah memang kondisinya sudah sekritis ini?" ujarnya yang turut merasa jengkel dengan situasi itu, Kamis (6/8).

Keluhan serupa disampaikan Siti Rahma (36), seorang pedagang. Ia mengatakan waktu berdagangnya sering terpotong karena harus lebih dulu mencari BBM.

"Kalau antre terus seperti ini, kami yang rugi. Dagangan terlambat buka, pelanggan menunggu. Yang membuat heran, antrean seperti ini terjadi hampir setiap hari, tetapi sampai sekarang belum ada solusi yang benar-benar terasa," keluhnya.

Sementara itu, pengemudi ojek Rudi Hartono (39) mengaku antrean BBM langsung berdampak pada penghasilannya."Saya hidup dari narik ojek. Kalau dua atau tiga jam habis di SPBU, berarti waktu mencari penumpang hilang. Pendapatan otomatis turun. Pemerintah jangan menganggap ini persoalan sepele karena yang merasakan dampaknya masyarakat kecil," ungkapnya.

Seorang Akademisi Kotim, Riduan Kesuma, menilai kondisi tersebut sudah menjadi persoalan serius yang tidak boleh terus dibiarkan. Menurutnya, pemerintah dan Pertamina harus segera memberikan jawaban yang jelas kepada masyarakat.

Baca Juga: Antrean SPBU Kembali Panjang, DPRD Kalteng Ingatkan Ancaman Kelangkaan BBM

"Fenomena seperti ini tidak bisa dianggap biasa. Jangan sampai kesabaran masyarakat habis. Kalau setiap hari rakyat dipaksa mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM, potensi munculnya kemarahan publik sangat terbuka. Orang datang ke SPBU bukan untuk menghabiskan waktu, tetapi karena mereka ingin bekerja dan mencari nafkah," ujarnya yang juga nampak jengkel dengan situasi tersebut.

Riduan mengaku heran dengan penjelasan Pertamina yang selama ini terkesan memastikan kuota BBM subsidi di Kotim dalam kondisi normal. Baginya, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan.

"Kalau memang kuotanya normal, lalu mengapa antrean tidak pernah selesai? Mengapa setiap hari kendaraan bisa mencapai ratusan unit? Jangan hanya mengatakan stok aman kalau masyarakat justru kesulitan mendapatkannya. Ada yang tidak sinkron antara penjelasan dan fakta yang terjadi di lapangan," tegasnya.

Ia menilai banyaknya SPBU di Kotim semestinya mampu mengurai antrean apabila distribusi berjalan lancar.

"Percuma SPBU bertambah kalau distribusinya tersendat. Faktanya, begitu ada SPBU yang masih melayani Pertalite, kendaraan langsung menumpuk di sana karena SPBU lain kosong atau belum menerima pasokan. Kondisi seperti ini memunculkan dugaan di masyarakat bahwa kuota yang diterima setiap SPBU berkurang. Dugaan itu harus dijawab secara terbuka. Jangan dibiarkan menjadi spekulasi," imbuhnya.

Dirinya juga meminta Pemkab Kotim, tidak hanya menjadi penonton."Pemkab harus turun tangan. Panggil Pertamina, duduk bersama, jelaskan kepada masyarakat apa akar persoalannya dan bagaimana penyelesaiannya. Jangan sampai persoalan yang terus berulang ini menggerus kepercayaan publik terhadap pelayanan pemerintah maupun Pertamina," pungkas Riduan Kesuma.(ang/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
jengkel antrean bbm pertalite spbu pertamax