47 Siswa dari Ketapang Ikuti Sekolah Rakyat, Jenjang SMP Paling Diminati

M. Akbar • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 23:12 WIB
Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah (batik biru) saat mendampingi calon peserta didik Sekolah Rakyat mengikuti Pra MPLS Tahun Ajaran 2026/2027.  (Akbar/Radar Sampit)
Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah (batik biru) saat mendampingi calon peserta didik Sekolah Rakyat mengikuti Pra MPLS Tahun Ajaran 2026/2027. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Sebanyak 47 calon peserta didik asal Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mengikuti program Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Dari tiga jenjang pendidikan yang tersedia, tingkat SMP menjadi yang paling diminati hingga jumlah pendaftarnya melebihi kuota yang disediakan.

Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengatakan puluhan peserta didik tersebut berasal dari lima kelurahan dan enam desa. Pihak kecamatan turut mendampingi seluruh tahapan seleksi, mulai dari pendataan calon siswa, pemeriksaan kesehatan, hingga mengantar mereka mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Total ada 47 siswa dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang mengikuti Sekolah Rakyat, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Mereka berasal dari lima kelurahan dan enam desa,” ujarnya usai mendampingi calon peserta didik di wilayahnya, Kamis (30/7).

Ia menjelaskan, antusiasme masyarakat paling tinggi terlihat pada jenjang SMP. Bahkan, jumlah pendaftar melampaui kuota sehingga panitia harus melakukan seleksi kembali sesuai ketentuan yang berlaku.

“Untuk tingkat SMP, kuotanya malah terlampaui sehingga harus dilakukan seleksi. Sementara jenjang SMA juga mendapat respons yang sangat baik dan kuotanya terpenuhi,” katanya.

Berbeda dengan SMP dan SMA, kuota peserta didik jenjang SD belum dapat dipenuhi. Menurut Irpansyah, sebagian besar orang tua masih belum siap melepas anak berusia enam hingga tujuh tahun untuk tinggal di asrama.

“Kalau SD memang belum terpenuhi karena banyak orang tua yang masih enggan melepas anak usia enam atau tujuh tahun untuk tinggal di asrama,” jelasnya.

Irpansyah menuturkan, secara umum masyarakat menyambut positif kehadiran Sekolah Rakyat. Selain memberikan pendidikan secara gratis, program tersebut dinilai sangat membantu keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Mayoritas orang tua menyampaikan terima kasih kepada pemerintah karena program ini sangat membantu biaya pendidikan anak-anak mereka,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengaku masih menemukan beberapa anak putus sekolah yang belum dapat dijangkau program tersebut karena kurangnya dukungan dari orang tua.

“Ada beberapa anak putus sekolah yang sebenarnya ingin kami dorong masuk Sekolah Rakyat, tetapi orang tuanya belum memberikan dukungan. Ini menjadi perhatian kami agar ke depan semakin banyak anak yang bisa kembali mengenyam pendidikan,” tutupnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
Sekolah Rakyat sampit kotim