Perumdam Tirta Mentaya Keluhkan Dampak Pemadaman Listrik, Biaya Operasional Melonjak

M. Akbar • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11 WIB
Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit, Ismanadi, saat mengikuti RDP bersama Komisi II DPRD Kotim terkait pemadaman bergilir, Selasa (28/7).  (Akbar/Radar Sampit)
Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit, Ismanadi, saat mengikuti RDP bersama Komisi II DPRD Kotim terkait pemadaman bergilir, Selasa (28/7). (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak serius terhadap pelayanan air bersih.

Perumdam Tirta Mentaya Sampit mengungkapkan distribusi air ke wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terganggu, sementara biaya operasional perusahaan meningkat akibat penggunaan generator set (genset) dan mobil tangki.

Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit, Ismanadi, mengatakan seluruh proses produksi hingga distribusi air bersih bergantung pada pasokan listrik. Mulai dari pengambilan air baku di Sungai Sampit, wilayah Lepeh, hingga pendistribusian ke Samuda membutuhkan pompa dan generator.

"Ketika listrik padam, generator kami ikut terhambat beroperasi sehingga distribusi air ke wilayah selatan terganggu. Pengambilan air baku dari Sungai Sampit di Lepeh menggunakan generator, kemudian pendistribusian ke Samuda juga membutuhkan generator karena jaraknya cukup jauh," ujarnya usai mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Kotim terkait pemadaman bergilir, Selasa (28/7).

Menurut Ismanadi, dampak pemadaman tidak berhenti saat listrik kembali menyala. Pemadaman selama sekitar satu jam saja dapat menyebabkan udara masuk ke dalam jaringan pipa, sehingga proses normalisasi distribusi air membutuhkan waktu hingga empat hari.

Ia menjelaskan, idealnya genset dapat dioperasikan sekitar tiga menit setelah listrik padam. Namun tingginya frekuensi pemadaman membuat pelayanan tetap terganggu sehingga Perumdam harus mengerahkan armada mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

"Sudah sekitar satu bulan ini kami menyalurkan air menggunakan mobil tangki kepada pelanggan terdampak. Bahkan sebelum ada permintaan atau penetapan tanggap siaga, kami sudah lebih dulu mengirimkan air bersih ke masyarakat," ungkapnya.

Ismanadi juga mengungkapkan bahwa instalasi Perumdam Tirta Mentaya tidak termasuk dalam kategori objek prioritas yang tetap memperoleh pasokan listrik selama pemadaman bergilir. Prioritas pasokan listrik saat ini hanya diberikan kepada fasilitas vital, seperti rumah sakit.

Selain berdampak pada pelayanan, kondisi tersebut turut membebani keuangan perusahaan. Pengoperasian genset dan mobil tangki membuat kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) meningkat, sementara seluruh biaya masih ditanggung dari pendapatan operasional perusahaan.

"Tidak ada anggaran khusus dari pemerintah daerah. Mau tidak mau kami menggunakan pendapatan operasional perusahaan agar pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan," tegasnya.

Untuk menjaga kelancaran distribusi air bersih selama masa tanggap siaga, Perumdam Tirta Mentaya berharap pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dapat membantu mempermudah akses pemenuhan kebutuhan BBM bagi operasional genset dan armada distribusi, hingga kondisi kelistrikan kembali normal. (ktr-2/sla)

Editor : Slamet Harmoko
Tirta Mentaya air bersih sampit kotim pemadaman listrik