SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kali ini, api menghanguskan sekitar lima hektare lahan kosong di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Jumat (24/7/2026).
Berdasarkan laporan Pos Sektor Samuda Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim, informasi kebakaran diterima pada pukul 11.00 WIB dari seorang pelapor bernama Herman. Lima menit kemudian petugas langsung bergerak menuju lokasi yang berjarak sekitar 29 kilometer.
Petugas tiba di lokasi pada pukul 11.50 WIB dan segera melakukan penilaian awal (size up) sebelum memulai proses pemadaman pada pukul 11.55 WIB.
Kepala Pos Sektor Samuda, Supianor, bersama personel Heriansyah dan Himawan diterjunkan menggunakan satu unit mobil tangki pemadam untuk mengendalikan kobaran api.
Proses pemadaman berlangsung cukup lama hingga akhirnya operasi dinyatakan selesai pada pukul 14.54 WIB. Petugas kemudian kembali ke Pos Sektor Samuda dan tiba sekitar pukul 15.57 WIB.
Laporan menyebutkan objek yang terbakar merupakan lahan kosong yang dipenuhi semak belukar dengan estimasi luas sekitar lima hektare.
Dalam laporan awal, penyebab kebakaran diduga akibat arson atau unsur kesengajaan. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Selama proses pemadaman, petugas mendapat dukungan dari sejumlah unsur di lapangan, yakni Polsek Jaya Karya Samuda, PT SIMON, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP).
Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.
Kondisi cuaca saat kejadian dilaporkan cerah, sementara proses pemadaman berjalan lancar tanpa kendala berarti. Disdamkarmat menilai kemampuan personel, komunikasi, dan dukungan logistik selama operasi berlangsung dalam kondisi baik hingga sangat baik.
Kebakaran di Ujung Pandaran menambah daftar kejadian karhutla yang terus terjadi di Kotim selama musim kemarau. Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 23 Juli 2026, luas lahan terbakar telah mencapai 191,856 hektare dari 93 kejadian karhutla dengan 102 kali penanganan. Sementara itu, jumlah hotspot hingga 24 Juli 2026 telah mencapai 559 titik, bahkan melampaui total hotspot sepanjang tahun 2025 yang berjumlah 453 titik.
Kondisi tersebut menunjukkan ancaman karhutla di Kotim masih tinggi sehingga masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. (oes)
Editor : Slamet Harmoko