Angkat Budaya Dayak, SMK Swasta di Sampit Ini Punya Cara Unik Sambut Siswa Baru

M. Akbar • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 17:05 WIB
Tradisi penyiraman air bunga yang digelar sebagai rangkaian penutupan MPLS SMK Bhakti Mulya Sampit, Kabupaten Kotim, Senin (20/7).  (Ist)
Tradisi penyiraman air bunga yang digelar sebagai rangkaian penutupan MPLS SMK Bhakti Mulya Sampit, Kabupaten Kotim, Senin (20/7). (Ist)
 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bhakti Mulya Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengangkat kearifan lokal budaya Dayak dalam penyambutan siswa baru.

Tradisi penyiraman air bunga yang digelar pada penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dipertahankan sebagai simbol penyucian diri, doa, sekaligus upaya melestarikan budaya daerah.

Kepala SMK Bhakti Mulya Sampit, Mursi, mengatakan tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas sekolah sejak berdiri pada 2007. Menurutnya, prosesi itu diadaptasi dari budaya Dayak yang mengenal ritual penyiraman sebagai simbol membersihkan diri dari hal-hal yang kurang baik sebelum memulai kehidupan baru.

“Sebenarnya penyiraman ini berasal dari budaya Dayak. Kami mengangkatnya sebagai kearifan lokal agar budaya daerah tetap lestari sekaligus menjadi bagian dari penyambutan siswa baru di sekolah,” ujarnya, Senin (20/7).

Ia menjelaskan, tradisi tersebut bukan sekadar seremoni penutupan MPLS, melainkan juga media untuk mengenalkan budaya lokal kepada peserta didik sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari lingkungan sekolah.

“Maknanya sebagai ucapan selamat datang, membersihkan hal-hal yang tidak baik sehingga nanti di sekolah bisa mendapatkan hal yang baik dan prestasi yang baik,” tambahnya.

Prosesi penyiraman dilakukan menggunakan air yang dicampur bunga melati, mawar, asoka, dan sejumlah bunga beraroma harum. Setiap unsur memiliki filosofi tersendiri, seperti warna putih yang melambangkan kesucian, merah sebagai simbol keberanian, kuning melambangkan keagungan, sedangkan aroma harum menggambarkan kebersihan dan kebaikan.

Mursi menegaskan seluruh siswa mengikuti kegiatan tersebut secara sukarela. Sebelum pelaksanaan, sekolah terlebih dahulu menjelaskan makna tradisi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Tidak ada paksaan. Anak-anak sudah diberi penjelasan bahwa ini hanya simbol penyambutan dan tidak bertentangan dengan aturan Dinas Pendidikan,” tegasnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 34 siswa baru dari Program Keahlian Layanan Kesehatan Masyarakat dan Desain Komunikasi Visual (DKV) mengikuti prosesi tersebut.

Selain penyiraman air bunga, penutupan MPLS juga diisi dengan doa bersama, penyampaian nasihat kepada siswa, serta penampilan karungut. Menurut Mursi, rangkaian kegiatan itu merupakan bagian dari pendidikan karakter yang dipadukan dengan pelestarian budaya lokal.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Karena itu, kearifan lokal kami hadirkan dalam kegiatan sekolah,” pungkasnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
SMKS Bhakti Mulya Sampit sampit