SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyebut remaja usia SMP hingga SMA menjadi kelompok yang paling rentan mengalami tindak kekerasan terhadap perempuan.
Kepala DP3AP2KB Kotim, Achmad Yusi mengatakan kondisi psikologis remaja yang masih labil membuat mereka lebih mudah menjadi korban kekerasan.
Sementara pada kelompok usia dewasa, kerentanan lebih banyak dialami perempuan yang memiliki riwayat atau trauma akibat kegagalan pernikahan sebelumnya.
Baca Juga: Polda Kalteng Gelar Sertijab Enam Jabatan, Dua Polwan Pimpin Polres
"Di usia mereka yang masih labil, remaja menjadi kelompok usia yang rentan terhadap tindak kekerasan," ujarnya.
Untuk penanganan kasus, DP3AP2KB mengandalkan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). Korban yang melapor akan mendapatkan layanan pendampingan, mulai dari konseling psikologis hingga bantuan medis secara gratis sesuai hasil asesmen tim.
Yusi mengimbau masyarakat maupun keluarga yang mengetahui adanya tindak kekerasan agar tidak ragu melaporkannya ke UPTD PPA.
Baca Juga: Tanpa Meja dan Kursi, Puluhan Murid SDN 1 Batu Belaman Terpaksa Belajar Lesehan
"Kami menjamin kerahasiaan identitas korban. Jangan dipersulit jika ada karyawan atau warga yang ingin melapor. Tugas kita bersama menghentikan kekerasan terhadap perempuan," tegasnya.
Selain memperkuat layanan bagi korban, DP3AP2KB juga terus meningkatkan upaya pencegahan melalui kerja sama lintas sektor. Pemerintah daerah telah menjalin Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah perusahaan besar swasta di sektor perkebunan kelapa sawit.
Menurut Yusi, dunia usaha memberikan respons positif terhadap upaya pencegahan kekerasan. DP3AP2KB pun kerap diundang untuk memberikan sosialisasi di lingkungan perusahaan yang mempekerjakan banyak tenaga kerja perempuan.
Baca Juga: Inilah Fakta Baru Amuk Massa Yang Mengamankan Pemuda di Jalan DI Panjaitan Sampit
"Respons dari sektor swasta sangat positif. Kami sering diundang untuk mengisi kegiatan pencegahan kekerasan di lingkungan perusahaan karena jumlah karyawan perempuan di sektor perkebunan juga cukup banyak," pungkasnya. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor