SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Ancaman musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Juli hingga Agustus mulai diantisipasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotawaringin Timur (Kotim). Demi menjaga produktivitas pertanian, khususnya di sentra padi wilayah selatan, DPKP mengajukan bantuan enam unit pompa irigasi dan empat unit pipa irigasi kepada pemerintah pusat. Hal itu agar musim tanam ketiga tetap dapat berlangsung.
Kepala DPKP Kotim Yephi Hartadi mengatakan, usulan bantuan tersebut telah diajukan sejak awal tahun. Saat ini prosesnya masih berada di pemerintah pusat setelah seluruh kelengkapan administrasi yang diminta berhasil dipenuhi pada Juni lalu.
"Kemarin memang ada beberapa data yang harus dilengkapi, dan sekarang sudah kita penuhi. Tinggal menunggu proses dari pemerintah pusat,"ujarnya, Senin (6/7).
Ia menjelaskan, bantuan tersebut diprioritaskan untuk wilayah selatan Kotim, terutama di kawasan Lempuyang dan Pulau Hanaut yang menjadi salah satu sentra produksi padi. Keberadaan irigasi pompa dan jaringan pipa dinilai sangat penting untuk menjaga ketersediaan air saat musim kemarau memasuki puncaknya.
Meski demikian, Yephi memastikan hingga saat ini belum ada laporan dari petani mengenai kekurangan air maupun penurunan debit air di areal persawahan. Kondisi lahan pertanian masih relatif aman dan aktivitas budidaya berjalan normal.
"Tetapi berdasarkan perkiraan, akhir Juli sampai Agustus memang berpotensi mulai memberikan dampak. Tinggal seberapa besar dampaknya yang belum bisa dipastikan," ujarnya.
Menurut Yephi, salah satu strategi yang disiapkan DPKP untuk meminimalkan risiko tersebut ialah mempercepat masa panen hingga selesai pada Juli. Langkah itu dilakukan agar petani memiliki waktu mempersiapkan musim tanam berikutnya sebelum kemarau mencapai puncaknya.
"Makanya kemarin kita banyak mendorong supaya panen selesai di Juli. Jadi nanti Agustus kita fokus mempersiapkan pertanaman periode berikut," imbuhnya.
Baca Juga: Legislatif Kotim Minta SPBU Prioritaskan BBM Subsidi untuk Sektor Pertanian
Ia menegaskan, bantuan irigasi pompa dan pipa yang diajukan bukan ditujukan untuk menyelamatkan tanaman yang sedang dipanen, melainkan sebagai penopang musim tanam ketiga yang dijadwalkan dimulai pada Agustus.
DPKP optimistis apabila proses tanam dapat berlangsung sesuai jadwal, maka saat memasuki musim hujan pada September hingga Oktober, tanaman sudah berkembang dengan baik sehingga produktivitas padi tetap terjaga dan indeks pertanaman tidak mengalami penurunan.
Selain mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat, DPKP juga mengusulkan agar seluruh sarana irigasi yang nantinya disalurkan dapat dihibahkan kepada kelompok tani. Menurut Yephi, skema tersebut jauh lebih efektif dibandingkan apabila aset tetap menjadi milik pemerintah pusat.
Ia menilai, pengelolaan oleh kelompok tani akan membuat sarana tersebut dimanfaatkan secara berkelanjutan, tidak hanya saat terjadi kemarau.
"Harapan kami kalau memang nanti terealisasi, bantuan itu bisa dihibahkan kepada kelompok tani. Jadi mereka bisa mengelola, merawat, dan memanfaatkannya kapan pun diperlukan. Jangan sampai hanya dipakai saat musim kemarau, setelah itu dibiarkan terbengkalai," pungkas Yephi.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama