SAMPIT, radarsampit.jawapos.com — Memasuki musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Bupati Kotim Halikinnor menegaskan, cuaca yang lebih panas tahun ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga upaya pencegahan harus menjadi prioritas seluruh elemen masyarakat, termasuk perusahaan.
Ia meminta masyarakat, khususnya yang tengah membuka atau mengelola lahan, tidak menggunakan metode pembakaran karena berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
"Berdasarkan informasi dari BMKG, saat ini kita sudah memasuki musim kemarau dan kondisi tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang paling panas dalam beberapa dekade terakhir. Karena itu saya mengimbau masyarakat, terutama yang sedang menggarap lahan, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," kata Halikinnor, Senin (6/7).
Menurut Halikinnor, sejumlah kejadian kebakaran yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa api dapat dengan cepat meluas, terutama di wilayah yang didominasi lahan gambut.
Ia mencontohkan kebakaran yang sempat terjadi di kawasan sekitar Bandara H Asan Sampit. Meski luas area yang terbakar tidak terlalu besar, proses pemadaman berlangsung cukup sulit karena karakteristik lahan yang mudah menyimpan bara api.
"Seperti kejadian kebakaran di sekitar bandara beberapa waktu lalu, meskipun areanya tidak terlalu luas, proses pemadamannya tetap sangat sulit. Apalagi jika api sudah membesar," ujarnya.
Selain mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di lahan, Halikinnor juga meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di lingkungan permukiman.
Ia mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan instalasi listrik maupun sumber api saat memasak, terutama bagi warga yang masih menggunakan kayu bakar.
"Saya juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam penggunaan listrik maupun api, terutama bagi yang masih menggunakan kayu bakar, sehingga kebakaran permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan bisa dicegah sejak dini," ucapnya.
Halikinnor juga mengajak perusahaan besar swasta, khususnya yang bergerak di sektor perkebunan, untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Menurutnya, perusahaan perlu segera mengerahkan sumber daya apabila terjadi kebakaran di sekitar wilayah operasionalnya.
"Jika terjadi kebakaran di sekitar areal perusahaan, kami berharap pihak perusahaan bersama masyarakat dapat segera membantu melakukan pemadaman sebelum api membesar," tegasnya.
Ia menilai langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi. Selain sulit dipadamkan, kebakaran lahan gambut juga dapat menimbulkan kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi, hingga perekonomian daerah.
"Lebih baik kita mencegah daripada menghadapi kebakaran besar yang dampaknya meluas ke berbagai sektor kehidupan. Mari kita bersama-sama menjaga agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan," pungkasnya. (ktr-3)
Editor : Slamet Harmoko