SAMPIT, radarsampit.jawapos.com — Jagat media sosial belakangan ini diramaikan oleh narasi yang mengaitkan setiap momentum pidato Presiden RI Prabowo Subianto dengan melemahnya nilai tukar rupiah serta rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menanggapi fenomena viral tersebut, kalangan akademisi mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kesimpulan yang terburu-buru dan keliru.
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sampit, Guruh Fajar Alamsyah, menyatakan bahwa meskipun pernyataan seorang kepala negara memegang bobot penting terhadap ekspektasi pelaku pasar, mengambambinghitamkan satu pidato sebagai penyebab tunggal anjloknya pasar keuangan adalah logika yang terlalu dangkal.
“Akan terlalu sederhana jika pelemahan rupiah atau penurunan IHSG hanya dikaitkan dengan satu pidato. Pasar bekerja berdasarkan akumulasi informasi,” ungkap Guruh, Sabtu (27/6).
Guruh menjelaskan bahwa investor profesional tidak bergerak hanya berdasarkan satu momentum emosional di podium. Hubungan sebab-akibat dalam dunia ekonomi sangat kompleks dan digerakkan oleh multifaktor yang saling bertubrukan di waktu yang sama.
Secara garis besar, tekanan yang dialami rupiah dan IHSG saat ini dibentuk oleh dua poros utama:
-
Faktor Global (Eksternal): Ketidakpastian ekonomi dunia, arah kebijakan suku bunga bank sentral negara maju (seperti The Fed), serta eskalasi dinamika geopolitik global.
-
Faktor Domestik (Internal): Konsistensi kebijakan fiskal pemerintah, laju inflasi, cadangan devisa, hingga prospek pertumbuhan investasi di dalam negeri.
"Narasi bahwa setiap presiden berpidato lalu IHSG dan rupiah pasti turun merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Justru interaksi antara faktor global dan domestik inilah yang membentuk persepsi risiko para investor," jelasnya.
Di tengah derasnya arus spekulasi digital, Guruh mengimbau masyarakat—khususnya para pelaku investasi lokal—untuk lebih kritis dan menyaring informasi dengan data makro yang valid, bukan sekadar mengikuti tren perbincangan di media sosial.
Untuk membaca arah pasar secara akurat, ia menyarankan agar publik lebih mengamati indikator fundamental berikut:
-
Perkembangan angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
-
Laporan kinerja keuangan emiten (perusahaan terbuka).
-
Kebijakan moneter strategis yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
Di akhir penjelasannya, Guruh menekankan bahwa tugas berat pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas melalui komunikasi publik yang jernih untuk membangun optimisme, sehingga sentimen negatif jangka pendek di media sosial dapat diredam dengan baik. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko