Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Potensi Hujan Rendah, Delapan Titik Panas Muncul di Kotim

Usay Nor Rahmad • Rabu, 24 Juni 2026 | 14:15 WIB
Petugas BPBD Kotim saat tiba di lokasi kebakaran lahan di Jalan Amin Klaru, Kawasan Lingkar Kota Selatan, Selasa (23/6/2026). (BPBD Kotim)
Petugas BPBD Kotim saat tiba di lokasi kebakaran lahan di Jalan Amin Klaru, Kawasan Lingkar Kota Selatan, Selasa (23/6/2026). (BPBD Kotim)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Potensi pertumbuhan awan hujan di Kabupaten Kotawaringin Timur diprakirakan rendah dalam 24 jam ke depan. Di saat yang sama, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat delapan titik panas atau hotspot yang tersebar di sejumlah kecamatan di wilayah tersebut.

Berdasarkan analisis Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, potensi pertumbuhan awan hujan berlaku mulai Rabu (24/6/2026) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (25/6/2026) pukul 07.00 WIB.

Kondisi tersebut menunjukkan peluang hujan yang relatif minim sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo mengatakan, rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan dapat menyebabkan kondisi cuaca cenderung lebih kering dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kotawaringin Timur secara umum berada pada kategori rendah. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena dapat mendukung meningkatnya risiko kebakaran lahan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering,” ujarnya.

Selain itu, hasil pemantauan satelit BMKG yang diakses pada Rabu (24/6/2026) pukul 07.00 WIB mendeteksi delapan titik panas dalam 24 jam terakhir di Kabupaten Kotawaringin Timur. Seluruh titik panas tersebut memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Titik panas terpantau berada di Kecamatan Antang Kalang, Bukit Santuai, Mentaya Hulu, Telaga Antang, Tewang, dan Tualan Hulu. Kecamatan Antang Kalang menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak berdasarkan hasil pemantauan tersebut.

Mulyono menjelaskan, keberadaan hotspot tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran. Namun, temuan tersebut menjadi indikator yang perlu segera ditindaklanjuti melalui pengecekan lapangan oleh pihak terkait.

“Hotspot merupakan indikasi awal adanya sumber panas di permukaan. Karena itu perlu verifikasi di lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran atau disebabkan faktor lain,” katanya.

BMKG juga mengeluarkan analisis kemudahan terjadinya kebakaran untuk wilayah Kalimantan Tengah pada 24 hingga 25 Juni 2026. Hasilnya menunjukkan sebagian besar 
wilayah bagian selatan dan tengah provinsi ini berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.

Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi cuaca yang relatif kering, suhu udara yang cukup tinggi, serta minimnya potensi hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Mulyono mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan lebih berhati-hati saat beraktivitas di area perkebunan maupun lahan terbuka.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya karhutla. Jangan melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar dapat ditangani lebih cepat,” pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#sampit #kotim #kalteng #karhutla