SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026. Tahun ini, musim kemarau diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, mengatakan wilayah Kotim secara meteorologis telah memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026. Meski masih terjadi hujan dalam beberapa hari terakhir, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar pada fase awal musim kemarau.
“Awal Juni ini kita sudah memasuki musim kemarau. Namun awal musim kemarau bukan berarti langsung tidak ada hujan. Hujan masih bisa terjadi, hanya intensitas dan frekuensinya mulai berkurang,” katanya, Sabtu (13/6).
Menurut Mulyono, kondisi iklim tahun ini menunjukkan potensi musim kemarau yang lebih kering. Dampaknya, risiko terjadinya karhutla diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dilihat dari fenomena iklim yang berkembang, potensinya dari kategori sedang menuju kuat. Kemungkinan besar kondisi tahun ini lebih kering sehingga potensi karhutla juga meningkat,” tambahnya.
BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung sekitar 100 hingga 120 hari. Durasi tersebut lebih panjang dibandingkan kondisi normal yang umumnya berlangsung kurang dari tiga bulan.
Selain itu, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Pada periode tersebut, risiko munculnya titik api dan kebakaran lahan akan semakin tinggi.
“Yang perlu diwaspadai adalah Agustus dan September karena itu diperkirakan menjadi puncak musim kemarau tahun ini,” ujarnya.
Mulyono menjelaskan, wilayah selatan Kotim menjadi daerah yang paling rawan terdampak karhutla. Kawasan seperti Pulau Hanaut, Teluk Sampit, dan Mentaya Hilir Selatan memiliki hamparan lahan gambut yang luas sehingga lebih rentan terbakar saat musim kemarau panjang.
Selain itu, arah angin yang diperkirakan bertiup dari timur berpotensi membawa asap kebakaran menuju Kota Sampit dan wilayah sekitarnya apabila terjadi karhutla di kawasan selatan.
“Kalau terjadi kebakaran di wilayah selatan, asapnya berpotensi terbawa angin ke Sampit. Itu yang harus kita waspadai bersama,” terangnya.
Tidak hanya ancaman karhutla, musim kemarau panjang juga berpotensi memicu kekeringan dan berkurangnya pasokan air bersih, khususnya di wilayah pesisir selatan. Menurunnya debit sungai dapat menyebabkan intrusi air laut sehingga kualitas air menjadi payau.
“Potensi kekeringan tetap ada karena durasi kemarau cukup panjang. Di wilayah selatan, ketika debit sungai menurun, air laut bisa masuk lebih jauh sehingga air menjadi payau,” jelasnya.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, baik dalam penggunaan air maupun pencegahan kebakaran lahan.
“Kami mengimbau masyarakat agar bijak menggunakan air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta selalu menjaga kesehatan selama musim kemarau berlangsung,” pungkasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko