SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) memastikan ketersediaan Minyakita untuk masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih lebih dari cukup meskipun produksi perusahaan saat ini mengalami penurunan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Manajer PT Sukajadi Sawit Mekar, Zulhendro, mengatakan penurunan produksi terjadi karena perusahaan melakukan penyesuaian kuota ekspor yang berkaitan dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).
Namun kondisi tersebut tidak memengaruhi pasokan Minyakita untuk kebutuhan masyarakat di Kotim.
“Kalau untuk kebutuhan Kotim, sebenarnya pasokan masih sangat mencukupi,” ujarnya saat mendampingi kunjungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim di pabrik PT SSM, Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Jumat (12/6).
Menurut Zulhendro, kapasitas produksi perusahaan saat ini mencapai sekitar 12.000 unit. Jumlah tersebut dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal meski produksi secara keseluruhan mengalami penurunan sekitar 50 persen.
“Produksi memang mengalami penurunan sekitar 50 persen karena kami menyesuaikan kuota ekspor. Program Minyakita ini berkaitan dengan DMO, sehingga ketika melakukan ekspor kami juga harus memenuhi kewajiban pasokan untuk kebutuhan dalam negeri,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak 1 Juni 2026 seluruh kuota Minyakita yang diproduksi perusahaan disalurkan melalui Bulog sebagai upaya memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Kebijakan tersebut juga dilakukan karena perusahaan saat ini memprioritaskan distribusi melalui jalur pemerintah.
“Mulai awal Juni sampai sekarang seluruh kuota kami disalurkan ke Bulog. Karena produksi menurun, kami memprioritaskan Bulog terlebih dahulu,” jelasnya.
Sebelumnya, selain Bulog, distribusi Minyakita juga dilakukan melalui sejumlah mitra perusahaan, salah satunya PT Wahana. Namun untuk sementara waktu penyaluran ke mitra tersebut dihentikan karena keterbatasan kuota produksi yang tersedia.
“Biasanya ada distribusi ke PT Wahana untuk wilayah Kotim. Namun saat ini tidak kami salurkan karena seluruh kuota yang tersedia kami prioritaskan untuk Bulog,” ungkapnya.
Zulhendro mengungkapkan, beberapa bulan lalu tingkat produksi perusahaan sempat mencapai sekitar 75 persen kapasitas karena tingginya permintaan ekspor.
Namun seiring penyesuaian kuota ekspor dan perubahan kebijakan energi nasional, perusahaan kini lebih fokus memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Ia menilai pasokan untuk kebutuhan dalam negeri ke depan berpotensi semakin besar, terutama dengan berkembangnya program biodiesel yang turut memengaruhi pola distribusi dan produksi industri sawit.
“Ke depan kemungkinan pasokan untuk kebutuhan lokal akan semakin besar, apalagi dengan adanya pengembangan program biodiesel yang juga memengaruhi pola distribusi dan produksi,” tandasnya.
Zulhendro berharap distribusi Minyakita melalui Bulog dapat membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga minyak goreng di pasaran, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mengendalikan inflasi daerah.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak khawatir karena stok Minyakita untuk wilayah Kotim dipastikan tetap tersedia dan mencukupi kebutuhan. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko