Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sidak TPID Bongkar Biang Harga Minyakita Mahal di Kotim, Stok Aman tapi Distribusi Tersendat

M. Akbar • Jumat, 12 Juni 2026 | 12:55 WIB
Wakil Bupati Kotim, Irawati, saat melakukan sidak ke pabrik pengolahan minyak goreng PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) di kawasan Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Jumat (12/6).  (Akbar/Radar Sampit)
Wakil Bupati Kotim, Irawati, saat melakukan sidak ke pabrik pengolahan minyak goreng PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) di kawasan Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Jumat (12/6). (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkap salah satu penyebab harga Minyakita masih belum stabil di pasaran, yakni persoalan distribusi yang dinilai belum optimal meskipun ketersediaan stok dalam kondisi aman.

Temuan tersebut disampaikan Wakil Bupati Kotim, Irawati, usai melakukan sidak ke pabrik pengolahan minyak goreng PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) di kawasan Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, bersama TPID, Polres Kotim, Kejaksaan, dan Bulog.

“Stok aman, tidak ada kelangkaan. Yang menjadi persoalan adalah harga yang masih tinggi di masyarakat,” ujarnya, Jumat (12/6).

Menurut Irawati, hasil pemantauan menunjukkan pasokan Minyakita masih tersedia dan tidak ditemukan indikasi kelangkaan barang. Namun, harga di tingkat konsumen masih relatif tinggi sehingga menjadi perhatian pemerintah daerah.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut adalah berkurangnya pasokan Minyakita kepada mitra distribusi Bulog. Jika sebelumnya satu mitra dapat menerima sekitar 50 dus dalam sekali pengiriman, kini jumlahnya hanya sekitar 20 dus.

“Kami mendapat informasi bahwa pasokan ke mitra berkurang. Kondisi ini berpotensi memengaruhi ketersediaan barang di tingkat pedagang dan berdampak pada kenaikan harga,” tambahnya.

Irawati menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena Kotim merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Kalimantan Tengah. Karena itu, minyak goreng seharusnya dapat tersedia dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Selain berkurangnya pasokan, panjangnya rantai distribusi juga dinilai turut memengaruhi harga jual di tingkat konsumen. Semakin banyak pihak yang terlibat dalam proses distribusi, semakin besar peluang terjadinya kenaikan harga.

“Semakin banyak mata rantai distribusi, semakin besar peluang terjadinya kenaikan harga. Karena itu distribusi harus dibuat lebih efektif,” tegasnya.

Ia berharap pola distribusi dapat disederhanakan, yakni melalui penyaluran langsung dari produsen ke Bulog, kemudian diteruskan kepada mitra resmi yang telah ditunjuk. Dengan demikian, harga Minyakita di pasaran dapat lebih terkendali.

Irawati juga mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi distribusi Minyakita dan melaporkan apabila menemukan dugaan penimbunan atau praktik yang menyebabkan kelangkaan maupun kenaikan harga yang tidak wajar.

Menurutnya, menjaga ketersediaan barang dan kestabilan harga merupakan langkah penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan inflasi daerah.

“Harga yang tinggi akan menurunkan daya beli masyarakat. Karena itu pengawasan harus dilakukan bersama-sama agar distribusi berjalan baik dan inflasi dapat dikendalikan,” pungkasnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
#harga minyakita #Sidak TPID Kotim #MinyaKita