SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong masyarakat lebih tertib membayar pajak kendaraan bermotor menyusul masih tingginya angka tunggakan pajak yang berpotensi mengurangi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ketua Komisi I DPRD Kotim, Angga Aditya Nugraha, mengatakan kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak kendaraan menjadi salah satu kunci untuk mengoptimalkan penerimaan daerah di tengah kondisi efisiensi anggaran.
“Di tengah efisiensi anggaran saat ini, kita perlu peningkatan PAD yang optimal. Salah satu sektor yang sangat potensial adalah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB),” ujarnya, Senin (1/6).
Berdasarkan data Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (UPT PPD Samsat) Kotim, sekitar 200 ribu unit kendaraan tercatat belum membayar pajak hingga Maret 2026.
Menurut Angga, tingginya jumlah kendaraan yang menunggak menunjukkan bahwa optimalisasi penerimaan pajak kendaraan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
“Kami sudah menggelar rapat dengar pendapat terkait PKB dan BBNKB. Hasilnya, masih ada sekitar 200 ribu kendaraan yang belum membayar pajak,” katanya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin memenuhi kewajiban perpajakan sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan daerah.
“Oleh sebab itu, kami mengimbau para pengguna kendaraan agar tertib membayar pajak. Ini merupakan salah satu langkah untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah,” tegasnya.
Selain mengajak masyarakat taat pajak, DPRD Kotim juga mendorong instansi terkait meningkatkan kualitas layanan perpajakan agar semakin mudah diakses masyarakat.
Menurut Angga, sejumlah langkah yang perlu dilakukan antara lain mempermudah sistem pembayaran, memperluas jangkauan layanan Samsat hingga ke tingkat kecamatan, serta melakukan evaluasi dan pembaruan data wajib pajak secara berkala.
“Kami mendorong adanya kemudahan layanan, perluasan jangkauan Samsat, dan evaluasi data pajak agar pendapatan daerah dari sektor ini bisa lebih optimal,” pungkasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko