SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpengaruh terhadap produktivitas sektor pertanian hingga harga pangan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada meningkatnya biaya produksi petani dan harga kebutuhan pokok di tingkat masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartady Periyanto, mengatakan dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan di sektor transportasi, tetapi juga memengaruhi rantai produksi dan distribusi pangan.
“Kalau untuk BBM ini jelas pasti berdampak ke semua sektor, termasuk harga pangan yang diterima masyarakat dan produktivitas petani,” ujarnya, Sabtu (23/5).
Menurutnya, sejumlah petani sebelumnya juga menyampaikan kekhawatiran terkait distribusi dan ketersediaan BBM subsidi untuk mendukung aktivitas pertanian mereka.
Persoalan tersebut, kata Yephi, turut disampaikan para petani saat dirinya melakukan audiensi dengan kelompok tani di wilayah Lempuyang.
“Mereka berharap subsidi BBM untuk petani tetap tersedia karena itu sangat berpengaruh terhadap biaya produksi,” tambahnya.
Ia menjelaskan, apabila biaya produksi pertanian meningkat akibat kenaikan BBM, maka kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga pangan di tingkat hilir atau konsumen.
“Kalau ingin stabilitas harga pangan di tingkat penjualan tetap baik, maka harga di tingkat petani juga jangan sampai terlalu naik,” ucapnya.
Meski demikian, pemerintah saat ini terus berupaya menjaga stabilitas harga komoditas pertanian, termasuk melalui kebijakan harga gabah yang telah ditetapkan oleh Bulog.
Yephi menilai peran pemerintah sangat penting dalam menjaga keseimbangan harga, distribusi pangan, serta ketersediaan BBM bagi petani agar sektor pertanian tetap berjalan optimal.
“Semua saling berpengaruh. Karena itu peran pemerintah dalam menjaga stabilitas ini sangat vital,” pungkasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko