SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini dinilai dapat menjadi momentum untuk mengubah kebiasaan masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Selain membantu menekan volume sampah plastik, langkah tersebut juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Marjuki, mengatakan pihaknya sejak lama telah mengampanyekan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, termasuk melalui surat edaran bupati.
“Pengurangan penggunaan kantong plastik sudah kita gaungkan sejak lama. Surat edaran bupati juga sudah ada,” ujarnya, Senin (27/4).
Menurut Marjuki, kenaikan harga plastik yang disebut mencapai hingga 100 persen justru bisa menjadi pemicu perubahan pola konsumsi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Ia menjelaskan, sampah plastik merupakan salah satu ancaman serius bagi lingkungan karena membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai secara alami.
“Sampah plastik bisa membutuhkan waktu 100 hingga 1.000 tahun untuk terurai. Dengan mengurangi penggunaan kantong plastik, kita juga mengurangi sampah yang sulit didaur ulang dan diurai,” ungkapnya.
DLH Kotim pun mendorong masyarakat mulai beralih menggunakan barang-barang yang dapat dipakai berulang kali, seperti tas belanja sendiri, wadah makanan, dan botol minum.
“Kami mengimbau masyarakat agar saat berbelanja menyiapkan kantong yang bisa digunakan berulang, sehingga tidak perlu lagi menggunakan banyak kantong plastik,” ucapnya.
Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut tidak hanya berkontribusi dalam menjaga lingkungan, tetapi juga membantu masyarakat menekan biaya belanja di tengah mahalnya harga plastik.
Selain menyasar masyarakat umum, DLH Kotim juga terus menggencarkan kampanye gaya hidup ramah lingkungan di kalangan pelajar melalui program sekolah Adiwiyata.
Dalam program tersebut, para siswa didorong membawa botol minum sendiri dari rumah guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah.
“Kami juga menghimbau sekolah-sekolah, khususnya Adiwiyata, agar siswa membawa botol minum sendiri yang bisa digunakan berulang kali,” tutupnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko