SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih belum bisa dianggap sepele. Pemerintah daerah pun menegaskan komitmennya dengan memperkuat peran posyandu dan keluarga sebagai ujung tombak pencegahan.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan Gerakan Cegah Stunting tingkat kabupaten yang digelar di Puskesmas Baamang I, Rabu (22/4).
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kotim, Umar Kaderi menegaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan serius karena berdampak luas terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Stunting tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan kognitif, produktivitas, hingga daya saing daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pencegahan stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada fase krusial ini, pemenuhan gizi menjadi penentu utama tumbuh kembang anak.
Menurut Umar, keluarga memegang peran penting dalam memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi. Namun, upaya tersebut tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan berbagai pihak.
“Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak, tetapi perlu kolaborasi seluruh OPD dan masyarakat agar hasilnya maksimal,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Kotim terus mendorong optimalisasi fungsi posyandu sebagai pusat layanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam edukasi gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan edukasi serta demonstrasi pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal yang dipandu tenaga ahli gizi.
“Pangan lokal yang sehat, terjangkau, dan bergizi tinggi bisa menjadi solusi nyata dalam mencegah stunting,” jelasnya.
Berdasarkan data Status Gizi Indonesia, angka stunting di Kotim saat ini mencapai 21,6 persen, masih jauh dari target pemerintah pusat yang berada di kisaran 14 hingga 15 persen.
Melalui penguatan peran posyandu dan keluarga, pemerintah berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat, sehingga angka stunting dapat ditekan secara bertahap.
“Kita ingin posyandu menjadi pusat gerakan cegah stunting, dan keluarga menjadi garda terdepan dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting,” tandasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko