SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Memasuki masa transisi cuaca, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak intrusi air laut yang berpotensi terjadi, khususnya di wilayah selatan.
Wilayah seperti Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentaya Hilir Utara menjadi daerah yang paling rentan terdampak.
Intrusi air laut dapat menyebabkan sumber air sungai berubah menjadi payau sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menyebutkan bahwa kondisi ini dipicu oleh masa peralihan musim yang berpotensi memicu kekeringan sekaligus memperparah masuknya air laut ke badan sungai.
“Ini sedang masa transisi, dan daerah-daerah rawan, terutama wilayah selatan, perlu lebih waspada. Ancaman yang dihadapi bukan hanya kemarau, tetapi juga intrusi air laut yang dapat menyebabkan sumber air sungai menjadi payau,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, salah satunya dengan memanen dan menampung air hujan sebagai cadangan air bersih.
“Kami mengimbau masyarakat di wilayah rawan untuk mulai memanen air hujan dan menampungnya, sehingga saat kemarau panjang air tersebut masih bisa dimanfaatkan,” tambahnya.
Multazam menjelaskan, pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan bahwa intrusi air laut dapat berdampak langsung terhadap terganggunya pasokan air bersih, terutama karena sebagian besar sistem PDAM di Kotim masih bergantung pada air sungai.
Ketika air sungai berubah menjadi payau, proses pengolahan menjadi tidak optimal. Dalam kondisi tertentu, pemerintah bahkan harus menyalurkan air bersih menggunakan armada tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain berdampak pada ketersediaan air, kondisi ini juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui. Masyarakat pun diingatkan untuk selalu mengolah air dengan cara dimasak sebelum digunakan.
BPBD juga menyoroti potensi meningkatnya beban ekonomi masyarakat jika harus membeli air bersih secara terus-menerus selama musim kemarau berlangsung.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan air serta tidak berlebihan dalam pemakaiannya.
“Wilayah selatan seperti Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara perlu mendapat perhatian ekstra. Namun daerah lain juga tetap harus waspada karena potensi ini bisa meluas,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan sistem pengelolaan air, pembangunan embung, serta perbaikan tata kelola irigasi menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak intrusi air laut dan kekeringan, sekaligus menjaga ketahanan air dan pangan di daerah. (oes)
Editor : Slamet Harmoko