SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering tahun ini mulai menjadi perhatian serius di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi tersebut berpotensi menekan produktivitas pertanian apabila tidak diantisipasi dengan langkah penyesuaian sejak dini.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Mulyono Leo Nardo mengingatkan pentingnya perubahan pola tanam menyesuaikan keterbatasan air selama musim kemarau.
Petani dimnita mulai mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. “Untuk sektor pertanian, kami mengimbau masyarakat agar menanam varietas yang tahan terhadap kekurangan air,” ujarnya.
Ia menilai, karakteristik wilayah Kotim yang setiap tahun mengalami periode kering cukup panjang seharusnya menjadi dasar dalam perencanaan usaha tani. Tanpa penyesuaian, risiko penurunan hasil panen dinilai akan semakin besar.
Di sisi lain, kondisi di lapangan menunjukkan sebagian petani masih mengandalkan pola tanam konvensional dan komoditas yang rentan terhadap kekeringan. Hal ini berpotensi berdampak pada menurunnya produksi serta kerugian ekonomi bagi petani.
Selain sektor pertanian, BMKG juga mengingatkan potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau. Wilayah Kotim yang didominasi lahan gambut dinilai sangat rentan terbakar ketika kondisi kering berlangsung lama.
“Kita sebentar lagi memasuki musim kemarau dan diprediksi lebih kering serta lebih panjang dari tahun sebelumnya,” tegasnya.
Mulyono juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Praktik tersebut dinilai berisiko memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan, terutama di lahan gambut.
“Kami mengimbau masyarakat utnuk tetap menjaga l ingkungan dan tidak membakar lahan secara sembarangan,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, diperlukan langkah antisipatif dari berbagai pihak. Pendampingan kepada petani untuk diversifikasi tanaman tahan kekeringan, penerapan teknologi irigasi hemat air, hingga pengawasan ketat terhadap pembakaran lahan menjadi upaya yang dinilai penting guna menekan dampak kemarau panjang.
Jika tidak ditangani secara serius, musim kemarau yang lebih ekstrem berpotensi tidak hanya mengganggu sektor pertanian, tetapi juga memicu persoalan lingkungan yang lebih luas di Kotim. (yn/sla)
Editor : Slamet Harmoko