SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kotawaringin Timur masih menjadi perhatian serius. Sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 76 kasus HIV/AIDS, dengan 30 di antaranya terjadi pada kelompok usia produktif.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kotawaringin Timur, Asyikin Arpan, mengatakan dari total 76 kasus tersebut terdiri dari 48 kasus pada laki-laki dan 28 kasus pada perempuan.
“Secara umum pada tahun 2025 jumlah kasus yang tercatat ada 76 kasus,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 30 kasus terjadi pada kelompok usia 25 hingga 40 tahun yang merupakan usia produktif. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia muda hingga dewasa masih menjadi kelompok yang cukup rentan terhadap penularan HIV.
Menurut Asyikin, sebagian besar penularan HIV di Kotawaringin Timur disebabkan oleh perilaku berisiko, terutama hubungan seksual yang tidak aman. Selain itu, penyalahgunaan narkoba juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.
“Penularan banyak terjadi karena perilaku berisiko, ini yang harus dicegah. Jika sudah terinfeksi, sulit untuk kembali seperti semula,” tegasnya.
Sebagai upaya pencegahan, KPA Kotawaringin Timur terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan penyuluhan kepada ratusan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur yang baru saja dilantik.
Menurutnya, sosialisasi kepada ASN penting dilakukan karena sebagian besar peserta merupakan kalangan usia muda yang termasuk dalam kelompok usia produktif.
“Kita memberikan pengetahuan kepada ASN tentang HIV/AIDS karena risikonya besar sekali. Tidak salah jika mereka diberikan pemahaman sejak dini, apalagi mereka merupakan generasi penerus,” jelasnya.
Asyikin juga mengingatkan bahwa seseorang yang terinfeksi HIV tidak selalu menunjukkan gejala secara langsung. Kondisi tersebut membuat penularan dapat terjadi tanpa disadari jika tidak dilakukan langkah pencegahan.
Di sisi lain, penderita HIV diharapkan tetap menjalani pengobatan secara rutin agar kondisi kesehatannya tetap terkontrol dan tidak berkembang menjadi AIDS.
Melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi yang terus dilakukan, dirinya berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya HIV/AIDS semakin meningkat sehingga angka penularan dapat ditekan di masa mendatang. (ktr-2/sla)
Editor : Slamet Harmoko