PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Jumlah titik panas (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mulai menurun. Namun, kabut asap masih menyelimuti hampir seluruh wilayah kabupaten tersebut.
Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Iskandar Pangkalan Bun, jumlah hotspot yang sebelumnya mencapai 500 hingga lebih dari 1.000 titik kini turun ke kisaran 350 dan 365 titik dalam dua hari pemantauan terakhir.
Prakirawan BMKG Iskandar, Afif Rowina Khairi, menegaskan bahwa penurunan jumlah hotspot berdasarkan pemantauan satelit tidak serta-merta menandakan dampak karhutla telah berakhir.
“Secara sebaran, kabut asap masih menyelimuti wilayah Kabupaten Kobar. Penurunan hotspot belum dapat dijadikan tanda bahwa dampak karhutla berakhir,” ujar Afif.
Menurutnya, hasil pemantauan BMKG menunjukkan pergerakan asap mengarah ke barat laut hingga timur laut. Kondisi ini menandakan kabut asap masih menjadi tantangan di tengah upaya pemadaman yang terus berlangsung.
Di sisi lain, peluang hujan ringan diperkirakan mulai terbuka pada dasarian III Oktober, yakni periode 20–30 Oktober. Hujan diprediksi turun secara bertahap, diawali dari wilayah utara Kobar.
“Hujan diprediksi bakal turun secara bertahap, diawali dari wilayah utara Kotawaringin Barat,” katanya.
Afif menjelaskan, prakiraan tersebut masih sejalan dengan prediksi BMKG sebelumnya. Namun, hujan diperkirakan tidak turun secara merata dalam waktu bersamaan.
Menurutnya, hujan diharapkan dapat mengurangi kondisi kering yang memicu kebakaran. Namun, efektivitasnya dalam menekan karhutla dan mengurangi kabut asap bergantung pada intensitas serta cakupan hujan yang turun.
BMKG juga mengingatkan masyarakat dan pihak terkait agar mencermati data hotspot. Meski jumlahnya jauh menurun dibandingkan periode sebelumnya, terdapat kenaikan 15 titik antara dua hari pemantauan terakhir, yakni dari 350 menjadi 365 titik.
Perubahan jumlah hotspot tidak selalu mencerminkan kondisi kabut asap di lapangan. Sebarannya juga dipengaruhi sumber titik api aktif, kondisi atmosfer, dan arah angin.
Afif mengimbau masyarakat Kobar untuk terus memantau perkembangan cuaca dan melindungi diri dari paparan udara yang kualitasnya belum sepenuhnya membaik sambil menunggu hujan dengan intensitas signifikan. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno