Kasus ISPA di Kobar Tembus 15 Ribu, Warga Diminta Waspada Kabut Asap

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:49 WIB
Salah satu Satgas Karhutla saat mendapat pertolongan oksigen dari petugas kesehatan Dinkes Kobar. (DINKES/RADAR SAMPIT)
Salah satu Satgas Karhutla saat mendapat pertolongan oksigen dari petugas kesehatan Dinkes Kobar. (DINKES/RADAR SAMPIT)
 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Sebanyak 15.076 warga Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pekan epidemiologi ke-38 tahun 2026.

Di tengah musim kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penyakit pernapasan ini menjadi kasus terbanyak yang dipantau Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar.

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), kasus ISPA mulai meningkat sejak pekan epidemiologi ke-29 dan mencapai puncaknya pada pekan ke-31.

Dari 335 kasus pada pekan ke-28, jumlahnya naik menjadi 457 kasus pada pekan ke-29, kemudian 468 kasus pada pekan ke-30, hingga mencapai 566 kasus pada pekan ke-31.

Setelah mencapai puncak, jumlah kasus berfluktuasi. Pada pekan ke-35 tercatat 534 kasus, turun menjadi 471 kasus pada pekan ke-36, lalu naik lagi menjadi 503 kasus pada pekan ke-37. Memasuki pekan ke-38, kasus kembali turun menjadi 487.

Meski menurun dibandingkan puncaknya, jumlah kasus mingguan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sebelum lonjakan terjadi. Dinkes terus memantau perkembangan kasus melalui fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi peningkatan lebih lanjut.

Lonjakan ISPA itu terjadi pada periode ketika paparan asap dan partikulat karhutla menjadi perhatian di Kobar. Namun, Dinkes tidak serta-merta menyimpulkan asap sebagai satu-satunya penyebab peningkatan kasus.

Dinamika cuaca, mobilitas penduduk, infeksi sekunder, serta kesadaran masyarakat untuk berobat juga dapat memengaruhi angka yang tercatat.

Kepala Dinkes Kobar Hardino mengimbau masyarakat mengurangi paparan asap, terutama saat kualitas udara menurun.

"Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan asap, terutama ketika kualitas udara menurun. Batasi aktivitas di luar rumah dan gunakan masker ketika harus keluar," tegas Hardino, Sabtu (10/10).

Ia juga meminta kelompok rentan, seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit bawaan, mendapat perlindungan ekstra. Masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami batuk, sesak napas, atau demam yang tak kunjung sembuh.

Di tengah peningkatan kasus ISPA, tren penyakit diare akut justru menurun. Setelah mencapai 183 kasus pada pekan ke-30, jumlahnya terus melandai hingga 86 kasus pada pekan ke-38.

Hardino mengingatkan masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mencukupi kebutuhan air minum, serta tidak membakar lahan yang dapat memperburuk kualitas udara.

"Jangan melakukan pembakaran yang memperburuk kualitas udara. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan kesehatan keluarga," pungkasnya. (tyo)

Editor : Slamet Harmoko
Dinkes Kobar kobar kabut asap ispa