Status Kualitas Udara di Kobar Berbahaya

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 09:58 WIB
Kondisi jalan menuju Kotawaringin Lama Kilometer 27 tertutup kabut asap akibat Karhutla, Jumat 2 Oktober 2026. (ist)
Kondisi jalan menuju Kotawaringin Lama Kilometer 27 tertutup kabut asap akibat Karhutla, Jumat 2 Oktober 2026. (ist)

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, dalam tiga hari terakhir mencapai 600 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kondisi tersebut membuat kualitas udara di wilayah itu berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Forecaster Stasiun Meteorologi (Stamet) Iskandar Kotawaringin Barat, Ibnu Ismantoro, mengatakan konsentrasi PM2.5 dalam tiga hari terakhir berada pada kisaran 200 hingga 600 µg/m³. Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi kesehatan masyarakat.

"Selama tiga hari terakhir, kualitas udara yang diukur melalui konsentrasi PM2.5 menunjukkan kondisi yang cenderung tidak sehat, bahkan pada beberapa waktu pengamatan telah mencapai kategori berbahaya," ujar Ibnu, Rabu (7/10).

Meningkatnya konsentrasi PM2.5 seiring dengan bertambahnya sebaran titik panas (hotspot) dan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kobar. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara berpotensi kembali memburuk.

Pada pagi hari, akumulasi partikulat di dekat permukaan tanah terpantau sangat pekat. Tebalnya asap menyebabkan jarak pandang (visibility) berkurang dan mengganggu aktivitas serta mobilitas warga.

Kondisi sempat membaik pada siang hari karena pemanasan matahari memicu pergerakan udara secara vertikal. Fenomena tersebut membantu menyebarkan partikel polutan ke lapisan udara yang lebih tinggi sehingga kondisi di permukaan sedikit membaik.

Namun, perbaikan itu bersifat sementara. Menjelang sore hingga malam, penurunan suhu membuat udara di dekat permukaan kembali dingin dan padat sehingga pergerakan udara vertikal terhambat.

Akibatnya, partikel asap sisa kebakaran terperangkap di dekat permukaan tanah dan menyebabkan konsentrasi PM2.5 kembali meningkat hingga malam hari.

Karakteristik lahan gambut di Kobar turut memperburuk kondisi karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Kebakaran gambut tersebut terus menghasilkan asap, terutama ketika aktivitas bara meningkat.

"Mengingat ukuran PM2.5 yang sangat kecil dan berisiko tinggi menembus organ pernapasan dalam, warga diimbau membatasi aktivitas luar ruangan serta wajib menggunakan masker standar pelindung pernapasan saat beraktivitas," pungkasnya. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
asap kotawaringin barat karhutla