PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Ahmad Shaleh, ruas Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mengancam kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Masoraian yang menjadi habitat sekitar 180 individu orangutan dan berbagai satwa endemik Kalimantan.
Camat Kotawaringin Lama Trias Agung Wibowo mengatakan, karhutla yang mendekati kawasan tersebut berpotensi merusak habitat dan mengganggu keberlangsungan hidup satwa yang bergantung pada hutan sebagai tempat mencari makan dan berlindung.
“Ini bukan hanya soal hutan yang terbakar. Di dalamnya ada kehidupan, ada satwa yang bergantung pada hutan sebagai tempat mencari makan dan berlindung. Kalau habitatnya rusak, mereka yang paling terdampak,” ujar Trias, Minggu (4/10).
Menurutnya, HKm Masoraian merupakan kawasan penting yang dikelola masyarakat setempat. Keberadaan sekitar 180 individu orangutan menjadikan kawasan tersebut memiliki peran penting dalam upaya konservasi satwa dilindungi.
Karhutla juga berisiko membakar vegetasi yang menjadi sumber pakan alami orangutan. Selain itu, kebakaran dapat memutus jalur jelajah alami orangutan sehingga menyebabkan fragmentasi habitat.
“Tak hanya itu, karhutla juga berpotensi memotong jalur jelajah (corridor) alami orangutan sehingga memicu fragmentasi habitat yang berbahaya,” katanya.
Trias mengakui masih terdapat keterbatasan dalam penanganan karhutla di lapangan. Karena itu, dia menekankan pentingnya respons cepat dan sinergi lintas sektor untuk mencegah api meluas ke kawasan HKm Masoraian.
“Ulun sangat prihatin dan sedih melihat kondisi seperti ini. Kami menyampaikan permohonan maaf apabila ada hal yang belum maksimal. Namun, yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita bergerak bersama mencegah agar api tidak makin meluas,” ungkapnya.
Dia menambahkan, HKm Masoraian juga menghadapi tekanan deforestasi dan ancaman alih fungsi lahan. Kondisi cuaca ekstrem serta aktivitas manusia dikhawatirkan semakin mempersempit habitat orangutan.
Trias menegaskan, perlindungan hutan membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Deteksi dini serta pelaporan cepat ketika ditemukan titik api dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas.
“Jangan sampai kita baru bergerak setelah semuanya terbakar. Kalau hutan rusak, yang hilang bukan sekadar pohon, tapi habitat dan kehidupan yang tak bisa dikembalikan dengan mudah. Kami berharap Masoraian tetap terjaga agar orangutan dan satwa lainnya tetap punya rumah untuk generasi mendatang,” pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno